Jumat, 27 Januari 2017

Kita ini Bukan Badan




 Kita ini Bukan Badan

 https://c7bf6ed0-a-62cb3a1a-s-sites.googlegroups.com/site/mandalakawi/upanisad/upanisad-roh-badan/plate08.JPG?attachauth=ANoY7cp2NeAGKIjhFr8JZLCZGWr6ztTjFfSzrMxp33wr8o0CwF-0xl5EVWLUkAcHcF8tj8i5PKbWUEkAWwtey70_m-egZ4MCmGEbLLRWXBqjJCuN5MsMJGwBHaRQF-x7wVpiFY_224gahCzQk-FvLibWMEb-3PF77vx_SmhYEY5xfJDXcRdZN_XtNtbBYkmQohJJjdkXXBJDpAD41VEgVgAjMw3cr1mzWTorasCYW64mYPpfm_hozjy4jV22zQbdBE4IpoeRjEmc&attredirects=0


dehi nityam avadhyo ‘yam dehe sarvasya bharata
tasmat sarvani bhutani na tvam socitum arhasi
“O putra dari keluarga Bharata, dia yang tinggal di dalam badan adalah kekal dan dia tidak dapat dibunuh. Karena itu anda tidak perlu meratap untuk makhluk apapun”. (Bg.2.30).
Langkah pertama dalam keinsafan diri ialah menginsafi bahwa, identitas kita ini lain daripada badan. Menginsafi bahwa, “Saya ini bukan badan melainkan saya ini roh” merupakan syarat untuk semua orang yang ingin mengatasi kematian dan masuk dunia rohani diluar dunia ini. Bukan semata-mata soal menyatakan, “Saya ini bkan badan,” tetapi soal benar-benar menghayati bahwa saya bukan badan. Mungkin soal ini nampaknya gampang dilakukan jika dipikirkan sepintas lalu, tetapi sebetulnya tidak segampang itu. walaupun kita ini bukan badan yaitu, kita ini kesadaran yang suci, namun bagaimanapun juga kita sudah terbungkus dengan badan jasmani. Kalau sesungguhnya kita ingin kebahagiaan dan pembebasan yang mengatasi kematian, maka kita harus menjadi mantap dan tinggal dalam kedudukan kita yang dasar sebagai kesadaran yang suci.
Kalau kita masih mempunyai pengertian yang jasmani, maka persangkaan kita tentang kebahagiaan seperti persangkaan orang yang sedang menggigau. Ada beberapa orang ahli Filsafat yang menyatakan bahwa, keadaan mempersembahkan diri dengan badan yang diumpamakan sebagai orang yang menggigau hendaknya disembuhkan dengan cara menghindari segala macam kegiatan sema sekali. Oleh karena kegiatan duniawai telah menjadi sumber keduka-citaan bagi kita, orang-orang ahli Filsafat tersebut menyatakan bahwa, seharusnya ktia menghentikan kegiatan itu. tingkatan kesempurnaan tertinggi bagi mereka adalah sejenis nirvana dimana tidak ada kegiatan yang dilakukan sama sekali. Sang Budha menyatakan bahwa, oleh karena suatu kombinasi dari unsur-unsur alam badan ini suda berwujud, dan jika bagaimanapun juga unsur-unsur alam itu dipisahkan atau dibongkar, maka sumber penderitaan dihilangkan. Kalau kita terlalu susah membayar pajak yang begitu tinggi karena kita memiliki rumah yang besar, maka salah satu cara yang sederhana terhadap masalah itu adalah menghancurkan rumah itu. akan tetapi dalam Bhagavad-gita ditunjukkan bahwa, badan jasmani ini bukan segala sesuatu. Diluar kombinasi dari unsur-unsur alam tersebut ada roh, dan kesadaran adalah gejala dari roh itu.
Adanya kesadaran tidak dapat ditolak. Sebuah tubuh tanpa kesadarannya adalah mayat. Selekas kesadaran itu diambil dari badan, mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat, mulut tidak bisa berbicara, mata tidak bisa melihat, dan kuping tidak bisa mendengarn. Anak-anak pun dapat mengerti hal itu. memang benar bahwa, adanya kesadaran merupakan syarat mutlak untuk menggerakkan badan. Apa artiny kesadaran itu ? Seperti halnya pemanas atau asap merupakan gejala-gejala dari api, begitu pula kesadaran merupakan gejala dari roh. Tenaga dari roh atman dihasilkan dalam bentuk kesadaran. Memang, adanya kesadaran membuktikan adanya roh. Filsafat ini tidak hanya disebut dalam Bhagavad-gita saja, tetapi juga merupakan kesimpulan dari semua Pustaka Suci Veda.
Para penganut Sankaracarya yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, beserta pula para Vaisnava yang mengikuti garis perguruan rohani dari Sri Krsna, mengakui adanya roh sebagai kenyataan, tetapi ada suatu golongan ahli Filsafat yang tidak mengakui adanya roh. Penganut-penganut Filsafat tersebut menyatakan bahwa, pada suatu tingkatan kombinasi dari unsur-unsur alam menghasilkan kesadaran, tetapi pendapat itu terbukti salah oleh kenyataan bahwa, walaupun segala bahan-bahan alam tersedia, kita tidak dapat menghasilkan kesadaran dari unsur-unsur itu. semua unsur alam barang kali ada dalam sebuah mayat, tetapi kita tidak sanggup menghidupkan mayat itu sehingga menjadi sadara. Badan ini tidak seperti mesin. Apabila suatu bagian dari sebuah mesin menjadi rusak, maka bagian itu dapat titukar, dan mesin itu dapat bekerja lagi. Tetapi apabila badan menjadi rusak dan kesadaran keluar dari badan, maka tidak mungkin kita menukar bagian badan yang rusak dan menghidupkan kembali kesadarannya. Roh itu lain daripada tubuh, dan selama roh masih ada, badan bisa bergerak, tetapi tidak mungkin menggerakkan badan kalau tidak ada roh.
Oleh karena kita belum dapat melihat roh dengan memakai indria-indria kita yang kasar, kita tidak mengakui adanya roh. Banyak sekali hal-hal yang diluar kesadaran kita, namun hal-hal itu benar-benar ada, hanya kita belum bisa melihatnya. Kita belum bisa melihat udara, siaran radio, suara, ataupun bakteri-bakteri yang sangat kecil dengan memakai indria-indria kita yang kasar. Tetapi ini tidak berarti hal-hal tersebut tidak ada. Dengan memakai mirkoskop dan alat-alat yang lain, banyak sekali benda-benda yang dapat dilihat, padahal adanya benda-benda itu dahulu kala tidak diakui oleh indria-indria yang kurang sempurna. Hendaknya kita jangan menarik kesimpulan bahwa tidak ada roh yang ukurannya sekecil atom hanya karena roh belum dapat dilihat oleh indria-indria ataupun dengan memakai alat-alat. Akan tetapi adanya roh itu dapat dimengerti dari gejala-gejala dan hasi-hasilnya.
Dalam Bhagavad-gita Sri Krsna menunjukkan bahwa, segala kesengsaraan disebabkan karena kita mempersamakan diri dengan badan.
matra-sparsas tu kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah
agamapayino ‘nityas tams titiksasva bharata
“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikana halnya musim dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg. 2.14).
Pada musim panas barangkali ktia bersenang hati kena air, tetapi pada musim dingin kita menghindari air yang sama, karena terlau dingin. Baik pada musim panas maupun pada musim din gin, airnya sama saja, tetapi kita merasakan bahwa air itu menyenangkan atau menyakitkan karena hubungannya dengan badan. Segala perasaan keduka-citaan dan kesenangan disebabkan oleh badan. Asal saja ada keadaan yang tertentu, badan dapat merasakan kesenangan dan keduka-citaan. Sebenarnya kita rindu akan kebahagiaan karena kedudukan roh yang dasar ialah kedudukan kebahagiaan. Roh-roh adalah bagian-bagian dari Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai isifat yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa bersifat sac-ideology-ananda-vigrahan. Yaitu, perwujudan dari pengetahuan, kebahagiaan dan kekekalan. Memang nama Krsna, yang tidak hanya dimiliki satu kelompok tertentu, berarti, kebahagiaan yang paling tinggi”. Krs adalah sarinya kebahagiaan, dan kita sebagai bagian-bagian dari Beliau yang mempunyai sifat yang sama seperti Beliau, kita pun rindu akan kebahagiaan. Satu tetes air laut mempunyai segala sifat dari lautan yang luas, demikian pula kita mempunyai sifat-sifat tenaga yang sama seperti Tuhan Yang Maha Esa, padahal kita hanya bagian-bagian yang kecil sekali dari Keseluruhan Yang Utama, Tuhan Yang Maha Esa.
Sungguhpun roh sangat kecil sekali seperti atom, namun roh lah yang menggerakkan badan sehingga badan itu banyak bertindak dengan cara yang ajaib. Alangkah banyaknya kota-kota, jalan raya, jembatan, gedung yang tinggi, tugu dan peradaban yang agung yang kita lihat di dunia, tetapi siapakah yang membuat segala-galanya itu ? Segala-galanya dibuato leh bunga api rohani yang sangat kecil, yang berada didalam badan. Kalau keajaiaban-keajabain seperti yang tersebut diatas dapat dilakukan oleh bunga api rohani yang sangat kecil, maka kita belum dapat membayangkan apa yang dapat dicapai oleh Keseluruhan Rohan Yang Paling Utama. Keinginan yang wajar bagi bunga api rohani yang kecil ialah keinginan untuk mendapatkan sifat-sifat dari keseluruhan, yaitu pengetahuan, kebahagiaan dan kekekalan. Tetapi keinginan-keinginan tersebut sekarang dialang-alangi karena badan jasmani. Keterangan tentang cara mencapai apa yang diinginkan oleh roh itu diberikan dalam Bhagavad-gita.
Sekarang ini kita berusaha untuk mencapai kekekalan, kebahagiaan dan pengetahuan dengan cara memakai alat yang kurang sempurna. Sesungguhnya kemajuan kita menuju pada tujuan-tujuan tersebut dialangi-alangi oleh badan jasmani, karena itu kita harus menginsafi kehidupan kita diluar badan tidaklah cukup. Kita harus selalu menjaga agar diri kita menyediri dari badan dan mengendalikan badan, janganlah kita menjadi hamba untuk badan. Kalau kita sudah tahu cara mengemudi mobil dengan baik, maka mobil itu akan melayani kita dengan baik, tetapi kalau kita belum tahu cara mengemudikan, maka kita berada dalam keadaan bahaya.
Badan terdiri dari indria-indria, dan indria-indria selalu haus akan obyeknya. Mata melihat orang yang cantik atau tampan, kemudian memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada gadis yang cantik, disana ada lelaki yang tampan. Marilah kita kesana untuk melihat.”
Telinga memberitahukan kepada kita, “Wah, disana ada musik yang bagus. Marilah kita pergi mendengar musik itu”. Lidah mengatakan “Disana ada restoran yang bagus yang menghidangkan makanan yang lezat. Marilah kita kesana”. Seperti itulah indria-indria menarik diri kita dari suatu tempat ketempat yang lain, dan karena itu kita menjadi bingung.
indriyanam hi caratam yan mano’ nuvidhiyate
tad asya harati prajnam vayur navam ivambhasi
“Bagaikan kapal diatas air dibawah pergi oleh angin yang keras, begitu juga kecerdasan seseorang dapat dibawah pergi bahkan oleh satu saja diantara indria-indria yang menjadi pusat perhatian bagi Pikiran”. (Bg. 2.67).
Kita harus belajar cara mengendalikan indria-indria. Gelar gosvami diberikan kepada orang yang sudah mengetahui cara menklukan indria-indria. Go berarti “indria-indria, dan svami berarti “pengendali, demikian orang yang dapat mengendalikan indria-indria disebut gosvami. Krsna menunjukkan bahwa, orang yang mempersembahkan dirinya dengan badan jasmani yang bersifat khalayan, dia tidak dapat menjadi mantap dalam identitasnya yang benar, yaitu, sebagai roh atau atman. Kebahagiaan jasmani berkelip-kelip dan memabukkan, dan kita tidak dapat menikmati kebahagiaan jasmani karena sifatnya sementara saja. Kebahagian yang sejati berasal dari roh atau atman, bukan dari badan. Kita harus membentuk kehidupan kita supaya kita tidak akan disesatkan oleh kebahagiaan jasmani. Bagaimanapun kalau kita disesatkan, maka tidak mungkin kesadaran kita dijadikan mantap dalam identitasnya yang sejati, yaitu lain daripada badan.
bhogaisvarya-prasaktanam ta yapahrta-cetasam
vyavasayatmika buddhih samadhau na vidhiyate
trai-gunya-visaya veda nistrai-gunyo bhavarjuna
nirdvandvo nitya-sattva-stho niryoga-ksema atmavan
“Orang-orang yang pikirannya terlau terikat dengan kepuasan indria-indria dan kekayaan duniawi sehingga pikirannya menjadi bingung karena hal-hal itu, mereka tidak dapat bertambah hati dengan mantap untuk berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Veda pada umumnya menguraikan tentang tiga sifat alam (tri-guna), O Arjuna. Atasilah tiga sifat alam itu. atasilah semuanya. Lepaskanlah diri anda dari segala hal yang relatif dan kecemasan akan keuntungan dan keselamatan, dan menjadi mantap pada Paramatma (Roh Yang Utama)”. (Bg. 2.44-45).

Kata Veda berarti “buku ilmu pengetahuan.” Ada banyak buku pengetahuan yang lain sesuai dengan negeri, penduduk, lingkungan, dan sebagainya. Di India, Kita-kitab Pengetahuan disebut Veda. Di negara-negara Barat, Kitab-Kitab pengetahuan disebut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Umat Islam mengakui Al Quran. Apa maksud daripada semua Kitab-kitab tersebut ialah melatih kita agar kita dapat mengerti kedudukan kita sebagai roh-roh yang bersifat suci. Maksudnya ialah mengendalikan kegiatan jasmani dengan aturan-aturan yang tertentu disebut norma-norma moril. Misalnya dalam Kitab Injil ada sepuluh perintah yang dimaksudkan untuk mengatur kehidupan. Badan harus dikendalikan agar kita dapat mencapai kesempurnaan yang paling tinggi, dan tanpa prinsip-prinsip untuk mengatur, tidak mungkin ktia menyempurnakan kehidupan kita. Aturan-aturan mungkin berbebda diantara satu negeri dan negeri yang lain, atau diantara salah satu Kitab Suci dan Kitab Suci yang lain, tetapi itu tidak menjadi soal sebab peraturan-peraturna tersebut dibuat sesuai dengan zaman, keadaan dan mental rakyat (desa, kala, patra). Tetapi prinsipnya sama saja, yaitu, pengendalian secara tertatur. Begitu pula pemerintah menetapkan peraturan-peraturan untuk dituruti oleh penduduk negara. Tidak mungkin ada kemajuan dalam pemerintahan ataupun dalam peradaban tanpa ada peraturan-peraturan. Dalam sloka yang disebut diatas, Sri KRsna memberitahukan kepada Arjuna bahwa, aturan-aturan dalam Veda dimaksudkan untuk mengendalikan tiga sifat alam, yaitu sattva (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kebodohan) traigunya-visaya vedah). Akan tetapi, Krsna memberi nasehat kepada Arjuna agar Arjuna menjadi mantap dalam kedudukannya yang dasar sebagai roh diluar hal-hal yang relatif dari alam duniawi.
Sebagaimana ditunjukkan tadi, hal-hal relatif tersebut, seperti misalnya, panas dan dingin, rasa senang dan rasa sakit, timbul karena hubungan indria-indria dengan obyek-obyeknya. Dengan kata lain, hal-hal tersebut muncul karena seseorang mempersamakan dirinya dengan badan. Krsna Menerangkan bahwa, orang yang gemar akan kenikmatan dan kewibawaan dipengaruhi oleh kata-kata dari Veda yang menjanjikan kebahagian dan kenikamtan di svarga dengan cara melakukan pengorbanan dan kegiatan yang teratur. Kenikmatan adalah hak asasi kita, sebab itu merupakan sifat dari roh, tetapi roh itu berusaha menikmati secara duniawi, dan inilah kesalahannya.
Semua orang mencari kenikmatan dalam hal-hal duniawi dan berusaha untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ada orang yang menjadi ahli ilmu kimia, ada yang menjadi ali ilmu fisika, ahli politik, ahli seni rupa, dan lain-lain. Seorang orang mengetahui banyak tentang sesuatu hal, dan juga mengetahui sekedar tentang segala hal, dan inilah yang biasanya disebut pengetahuan. Tetapi ketika kita meninggalkan badan, segala pengetahuan tersebut akan hilang. Dalam penjelmaan dahulu, mungkin seseorang pernah menjadi orang yang sangat berpenegetahuan, tetapi selama penjelmaan ini dia harus mulai lagi dengan masuk sekolah dan belajar cara membaca dan menulis dari dasar-dasarnya. Orang-orang sudah lupa akan segala pengetahuan yang didapatinya selama penjelamaannya yang dahulu. Sebenarnya kita mencari pengetahuan yang kekal, tetapi pengetahuan yang kekal itu tidak dapat diperoleh dengan badas jasmani ini. Kita semua mencari kebahagiaan melalui badan-badan ini, tetapi kenikmatan jasmani bukan kenikmatan yang sejati. Kenikmatan jasmani bersifat tiruan saja. Kita harus mengerti bahwa, kalau kita ingin melanjutkan kenikmatan tiruan tersebut, maka kita tidak akan dapat mencapai kedudukan kita yang kekal, yaitu, kedudukan dimana kita menikmati untuk selamanya.
Harus dianggap bahwa badan itu adalah seperti keadaan sakit. Orang yang sakit tidak dapat menikmati sesuatu secara layak. Misalnya, orang yang sakit kuning merasakan manisnya gula sebagai pahi, tetapi orang yang sehat dapat merasakan anisnya gula itu. baik bagi orang yang sakit, maupun bagi orang yang sehat, gula nya sama saja, tetapi sesuai dengan keadaan kita rasanya lain. Kalau pengertian kehidupan jasmani yang telah diumpamakan sebagai keadaan sakit belum disembuhkan, maka tidak mungkin kita merasakan manisnya kehidupan rohani. Kalau kita belum sembuh dari pengertian tersebut, maka kehidupan rohan rasanya pahit bagi kita. Pada waktu yang sama, dengan meningkatkan kenikmatan kita dari kehidupan duniawi, kita semakin memperparah keadaan sakit. Orang yang sakit tyupus tidak boleh makan makanan yang padatr. Kalau seseorang memberi makanan yang padat kepada si penderita agar dia menikmati, kemudian si penderita makan makanan itu, maka dia menyebabkan penyakit itu menjadi semakin parah dan membahayakan keselamtan si penderita. Kalau kita benar-benar ingin bebas dari penderitaan duniawi, maka kita harus mengurangi kebutuhan dan kenikmatan kita yang bersifat jasmnai. Sebenarnya kenikmatan duniawi itu sama sekai bukan kenikmatan. Kenikmatan yang sejati tidak ada habis-habisnya. Dalam Mahabharata ada sebuah sloka yang berbunyi : ramante yogino, nante, yang berarti bahwa, para yogi (yogino) yang berusia untuk naik tingkat sampai tingkatan rohani, sebenarnya mereka menikmati (ramante), tetapi kenikmatan itu bersifat anante, yaitu tidak ada habis-habisnya. Ini karena kenikmatan para yogi ada hubungannya dengan Yang Maha Menikmati (Rama), yaitu, Sri Krsna. Sebenarnya Bhagavan Sri Krsna yang menikmati, dan ini dibenarkan dalam Bhagavad-gita :
bhoktaram yajna-tapasam sarva-loka-mahesvaram
suhrdam sarva-bhutanam jnatva mam santim rcchati
‘Para resi yang mengetahui bahwa akhirnya Aku yang menikmati hasil dari segala pertapaan dan pengorbanan (yajna), bahwa Aku Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas semua planet-planet dan dewa-dewa, dan bahwa Aku teman baik bagi setiap makhluk hidup, merekalah yang mencapai kedamaian bebas dari sedihnya kesengsaraan duniawi. (Bg. 5.29).
Bhoga berarti “kenikmatan”, dan kenikmatan kita berasal dari pengertian tentang kedudukan kita, yaitu, bahwa kita dinikmati. Sebenarnya yang menikmati ialaha Tuhan Yang Maha Esa, dan kita semua menikmati oleh Beliau.
Sebuah contoh daripada hubungan tersebut dapat ditemui di dunia ini, yaitu, hubungan antara suami dan isteri, sang suami yang menikmati (purusa), dan sang isteri yang dinikmati (prakrti). Kata pri berarti “wanita”. Purusa, atau kerohanian, adalah subyek, dan prakrti, atau alam, adalah obyek. Akan tetapi suami-istri keduanya berpartisipasi dalam kenikmatan. Apabila kenikmatan benar-benar ada, maka tidak ada perbedaan, misalnya bahwa suami lebih menikmati atau istrinya kurang menikmati. Walaupun lelaki yang lebih berkuasa, tidak ada perbedaan dalam rangka menikmati. Dalam skala yang lebih luas, tidak ada makhluk hidup yang menikmati.
Tuhan Yang Maha Esa tenaga-Nya menjelma menjadi banyak, dan kita ini penjelmaan-penjelmaan itu. Tuhan adalah satu yang tiada duanya, tetapi Beliau ingin supaya tenaga-Nya menjadi banyak supaya Beliau dapat menikmati. Kita sudah mengalami bahwa, kalau kita duduk sendirian di kamar bercakap-cakap dengan diri sendiri, hampir tidak ada kenikmatan. Akan tetapi, kalau ada lima orang, maka kenikmatan kita ditingkatkan, dan apabila kita dapat bercakap-cakap tentang Krsna bersama banyak orang, maka kenikmatannya lebih tinggi lagi. Kenikmatan berarti keaneka-warnaan. Tenaga Tuhan menjadi banyak demi kenikmatan Beliau, demiian kedudukan kita ialah sebagai “yang dinikmati. Walaupun Krsna yang menikmati dan kita yang dinikmati, semua dapat berpartisipasi dalam kenikmatan secara merata. Kenikmatna kita dapat disempurnakan apabila kita berpartisipasi dalam kenikmatan Tuhan. Tidak mungkin menikmati sendiri pada bidang-bidang jasmani. Dalam banyak sloka dari Bhagavad-gita dinasihati supaya orang jangan menikmati secara dunaiwi pada tingkatan badan jasmani yang kasar.
matra-sparsas tu kaunteya sitosna-sukha-duhkha-dah
agamapayino ‘nityas   tams titiksasva bharata
“O putra Kunti, munculnya panas dan dingin, suka dan duka yang bersifat sementara, kemudian lenyapnya pada waktu yang berikut, bagaikan halnya musim dingin dan musim panas mulai dan kemudian berakhir. O prabu dari keluarga Bharata, hal-hal tersebut berasal dari penglihatan indria-indria dan seseorang harus mempelajari cara menahan hal-hal itu tanpa tergoyahkan. (Bg.2.14).
Badan jasmani yang kasar adalah akibat dari hal saling mempengaruhi dari tiga sifat alam, dan sudah ditakdirkan bahwa badan itu akan dibinasakan.
antavanta ime deha nityasyoktah saririnah
anasino prameyasya tasmad yudhyasva bharata
Yang dapat dibinasakan hanyalah tubuh dari makhluk hidup, dan makhluk hidup itu sendiri bersifat kekal, tidak dapat termusnahkan ataupun diukur ukurannya. Demikian, bertempurlah anda O putra dari keluarga Bharata. (Bg.2.18).
Demikian Sri Krsna memberi semangat kepada kita agar kita mengatasi pengertian kehidupan yang jasmani dan agar kita mencapai kehidupan rohani yang sejati.

gunan etan atitya trin dehi deha-samudbhavan
janma-mrtyu jara-duhkhair  vimukto ‘mrtam asnute
“Apabila makhluk yang berbadan dapat mengatasi tiga sifat tersebut, yaitu, kebaikan, nafsu dan kebodohan, maka ia dapat bebas dari kelahiran, kematian masa tua dan penderitaannya dan bahkan selama kehidupan ini pun ia dapat menikmati amrta. (Bg. 14.20).
Supaya kita dapat menjadi mantap pada tingkatan rohani yang disebut brahma-bhuta, diatas tiga sifat ala, kita harus memulai cara Kesadaran Krsna. Berkat dari Sri Caitanya Mahaprabhu, yaitu, cara mengucapkan nama-nama Krsna-Hare Krsna, Hare Krsna, Krsna Krsna, Hare Hare / Hare Rama, Hare Rama, Rama Rama, Hare Hare mempermudah cara tersebut. Cara ini disebut bhakti-roga atau mantra-yoga dan mantra itu dipergunakan oleh para rohaniawan yang paling agung. Bagaimana para rohaniawan insaf akan identitasnya diluar kehalhiran dan kematian, diluar badan jasmani, serta bagaimana mereka memindahkan dirinya keluar dari alam semesta sampai alam semesta rohani, itulah yang merupakan mata pembicaraan dalam bab-bab berikut.
(dikutip Dari Buku ”Diluar Kelahiran & Kematian” karangan Om Visnupada A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada ; Acharya dan Pendiri dari International for Krishna Consciousness).**

Bagaimana Bhagavad Gita Menggolongkan Agama-agama Dunia?

Ernst Trults menggolongkan agama-agama secara vertikal,  pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha, Jaina, Sikh dan Kristen . Karena Ernst Trults adalah seorang Kristen maka agama Kristen diletakkan sebagai  puncak dari agama-agama pembebasan ini.
Dr. H.M . Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi.  Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok agama alamiah ini adalah agama Hindu,  Budha serta agama-agama yang lahir di India dan Asia Timur lainnya.
Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya ; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal, dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.
Sementara itu beberapa teolog lainnya berusaha menggolongkan agama-agama berdasarkan tempat munculnya, yaitu agama-agama Abrahamik yang bersumber dari ajaran nabi Abraham / Ibrahim (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama Timur yaitu agama-agama yang muncul di India, Asia dan sekitarnya. Yang tergolong agama-agama timur sangat banyak, beberapa diantaranya adalah Hindu, Buddha, Jaina, Sikh, Sinto, dan Kong Hu Cu.
Penggolongan keyakinan berdasarkan pada demografi yang menghasilkan agama Abrahamik dan agama Timur mungkin tidak berimplikasi pada anggapan agama yang satu lebih tinggi dari agama yang lain. Namu lain halnya dengan penggolongan agama yang dilakukan oleh Ernst Trults,  Dr. H.M . Rasjidi dan Ram Swarup . Penggolongan agama-agama yang mereka lakukan membagi kelompok keyakinan secara vertikal dan menempatkan satu kelompok sebagai kelompok yang rendah dan yang lainnya pada kelompok yang tinggi. Jika kita analisis pengelompokan agama yang dilakukan oleh Ernst Trults dan Ram Swarup kedalam agama-agama Hukum (legal) dan agama-agama pembebasan sepertinya masih dapat diterima. Garis besar ajaran terutama dalam Hindu dan Buddha mengajarkan umatnya agar dapat lepas dari ikatan dunia material ini dan mencapai alam spiritual yang disebut Moksha atau Nirwana. Sedangkan garis besar ajaran Yahudi dan Islam lebih banyak mengatur perbutan baik dan buruk, pahala dan dosa serta segala sesuatu yang dilarang, diwajibkan dan boleh dilakukan. Meskipun prihal ajaran baik dan buruk, pahala dan dosa serta larangan dan anjuran tidak secara kental di ajarkan dalam ajaran Kristen karena hadirnya kitab Roma yang disusun oleh Paulus, namun pada kenyataannya dasar ajaran Kristen adalah ajaran Taurat / Torah sebagaimana pernyataan Yesus dalam Matius 5:17: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya“. Taurat sendiri adalah ajaran agama Yahudi yang sangat kental dengan sifat legal/hukum-nya. Jadi apakah pernyataan Ernst Trults yang menggolongkan Kristen kedalam agama pembebasan dapat diterima? Jika ajaran Kristen yang dimaksudkan dimana pernyataan Paulus dalam Roma lebih diakui dari pernyataan Yesus dalam Martius, maka penggolongan Ernst Trults ini dapat kita terima. Hanya saja pada kenyataannya apakah orang Kristen seharusnya mendasarkan ajarannya pada Yesus apa Paulus?
Okay, kita hentikan sejenak perdebatan mengenai penggolongan agama oleh tiga orang diatas. Penggolongan-penggolongan agama yang mereka lakukan adalah dari hasil kesimpulan atas pengetahuan mereka yang terbatas. Karena perbedaan level pengetahuan dan kesadaran yang mereka miliki masing-masing berbeda sehingga menghasilkan output yang berbeda juga. Namu bagaimana halnya jika yang menggolongkan keyakinan-keyakinan itu adalah Tuhan sendiri?
Dalam Bhagavad Gita Bab 17 Sri Krishna membahas secara gamblang mengenai golongan-golongan keyakian ini. Tuhan Yang Maha Esa membagi keyakinan kedalam tiga golongan, yaitu keyakinan dalam sifat kebaikan, nafsu dan kebodohan.
Bhagavad Gita 17.2
çré-bhagavän uväca
tri-vidhä bhavati çraddhä
dehinäà sä svabhäva-jä
sättviké räjasé caiva
tämasé ceti täà çåëu
Artinya:
“Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Menurut sifat-sifat alam yang diperoleh roh di dalam badan, ada tiga jenis kepercayaan yang dapat dimiliki seseorang – kepercayaan dalam kebaikan, dalam nafsu atau kebodohan. Sekarang dengarkanlah tentang hal ini”
Bhagavad Gita 17.11
aphaläkäìkñibhir yajïo
vidhi-diñöo ya ijyate
yañöavyam eveti manaù
samädhäya sa sättvikaù
Artinya;
“Di antara korban-korban suci, korban suci yang dilakukan menurut Kitab Suci, karena kewajiban, oleh orang yang tidak mengharapkan pamrih, adalah korban suci dalam sifat kebaikan

Bhagavad Gita 17.12
abhisandhäya tu phalaà
dambhärtham api caiva yat
ijyate bharata-çreñöha
taà yajïaà viddhi räjasam
Artinya;
“Tetapi hendaknya engkau mengetahui korban suci yang dilakukan demi keuntungan material, atau demi rasa bangga adalah korban suci yang bersifat nafsu, wahai yang paling utama di antara para Bharata”
Bhagavad Gita 17.13
vidhi-hénam asåñöännaà
mantra-hénam adakñiëam
çraddhä-virahitaà yajïaà
tämasaà paricakñate
Artinya;
Korban suci apapun yang dilakukan tanpa memperdulikan petunjuk Kitab Suci, tanpa membagikan prasadam [makanan rohani/yang sudah dipersembahkan], tanpa mengucapkan mantra-mantra Veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan di anggap korban suci dalam sifat kebodohan

Bhagavad Gita 17.17
çraddhayä parayä taptaà
tapas tat tri-vidhaà naraiù
aphaläkäìkñibhir yuktaiù
sättvikaà paricakñate
Artinya;
“Tiga jenis pertapaan tersebut, yang dilakukan dengan keyakinan rohani oleh orang yang tidak mengharapkan keuntungan material tetapi tekun hanya demi Yang Maha Kuasa, disebut pertapaan dalam sifat kebaikan

Bhagavad Gita 17.18
satkära-mäna-püjärthaà
tapo dambhena caiva yat
kriyate tad iha proktaà
räjasaà calam adhruvam
Artinya:
Pertapaan yang dilakukan berdasarkan rasa bangga untuk memperoleh pujian, penghormatan, dan pujaan disebut pertapaan dalam sifat nafsu. Pertapaan itu tidak mantap atau kekal”
Bhagavad Gita 17.19
müòha-gräheëätmano yat
péòayä kriyate tapaù
parasyotsädanärthaà vä
tat tämasam udähåtam
Artinya:
“Pertapaan yang dilakukan berdasarkan kebodohan, dan dengan menyiksa diri atau menghancurkan atau menyakiti orang lain dikatakan sebagai pertapaan dalam sifat kebodohan
Bhagavad Gita 17.20
dätavyam iti yad dänaà
déyate ‘nupakäriëe
deçe käle ca pätre ca
tad dänaà sättvikaà småtam
Artinya:
“Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu dan tempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan
Bhagavad Gita 17.21
yat tu pratyupakärärthaà
phalam uddiçya vä punaù
déyate ca parikliñöaà
tad dänaà räjasaà småtam
Artinya:
“Tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai kedermawanan dalam sifat nafsu
Bhagavad Gita 17.22
adeça-käle yad dänam
apätrebhyaç ca déyate
asat-kåtam avajïätaà
tat tämasam udähåtam
Artinya:
“Sumbangan-sumbangan yang diberikan di tempat yang tidak suci, pada waktu yang tidak suci, kepada orang yang tidak patut menerimanya, atau tanpa perhatian dan rasa hormat yang benar dikatakan sebagai sumbangan dalam sifat kebodohan
Bhagavad Gita 17.25
tad ity anabhisandhäya
phalaà yajïa-tapaù-kriyäù
däna-kriyäç ca vividhäù
kriyante mokña-käìkñibhiù
Artinya:
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut adalah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material”

Setelah mencermati sloka-sloka Bhagavad Gita di atas, maka kita dapat membuat penggolongan mengenai keyakinan-keyakinan yang ada di dunia ini. Agama-agama yang mengajarkan welas asih, melakukan sesuatu tanpa mengharapkan dan terikat akan hasil adalah agama yang masuk dalam golongan kebaikan. Agama-agama yang masuk dalam sifat kebaikan ini adalah agama Hindu, Buddha dan beberapa agama-agama Timur lainnya. Tetapi agama yang mengajarkan pada keterikatan akan pahala dan dosa, yang mengharapkan Surga sebagai imbalan, yang mengajarkan sesuatu dengan memperhitungkan besar pahala yang diperoleh atau besar dosa yang akan diterima tanpa mengajarkan untuk melepaskan diri dari ikatan pahala dan dosa yang bersifat material adalah agama-agama yang berada dalam tingkatan nafsu. Secara umum agama-agama dalam tingkatan nafsu ini adalah agama Islam, Kristen dan Yahudi.
Tentunya tidak semua orang Hindu atau Buddha masuk kedalam sifat kebaikan, semuanya tergantung pada bagaimana individu bersangkutan menerapkan ajaran yang sudah dia peroleh. Jika mereka menerapkan ajaran agama yang termasuk dalam tingkat kebaikan ini dengan baik, maka mereka juga masuk dalam golongan orang yang dalam tingkat kebaikan, tetapi jika mereka melakukan pertapaan, kedermawanan dan kebaikan dengan terikat akan hasil dan pujian maka mereka tetap dalam sifat nafsu dan juga mungkin kebodohan. Demikian juga halnya dengan penganut ajaran Islam, Kristen dan Yahudi. Meskipun ajaran dasar yang mereka terima adalah prihal pahala dan dosa yang tergolong dalam keyakinan dalam tingkat nafsu, tetapi jika mereka mampu melampaui itu semua dan terbebas dari harapan akan pahala sebagaimana kaum sufi dalam salah satu aliran Islam, maka mereka dapat dikategorikan dalam sifat kebaikan.
Jadi, termasuk dalam golongan keyakinan yang manakah anda? Kebaikan, Nafsu atau Kebodohan?

Walau 1000 Veda Menyatakan Api Itu Dingin, Janganlah Pernah Langsung Kau Percaya

Hal inilah yang membedakan ajaran Veda, Hindu dengan ajaran-ajaran agama-agama Abrahamik (Islam, Kristen dan Yahudi). Jika dalam Veda dianjurkan untuk tidak langsung percaya pada apa yang diungkapkan oleh Veda dan menganjurkan pengikutnya untuk mencoba mengkaji apa yang disampaikan oleh Veda, namun dalam ajaran Abrahamik hal ini sangat bertolak belakang. Semua ajaran Abrahamik menuntut umatnya untuk terlebih dahulu memiliki “iman” akan hal-hal mendasar dalam ajaran mereka.
Dalam ajaran Islam, iman mendasar yang harus dimiliki adalah yakin dan percaya bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Disamping itu umat muslim juga harus percaya pada adanya kiamat, penghakiman akhir, padang masyar, syurga (sorga), keyakinan bahwa Islam adalah agama terakhir yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya dan hanya Islam-lah satu-satunya jalan mencapai Tuhan, Allah.
Demikian juga dalam ajaran Kristen, orang Kristen harus beriman pada Yesus sebagai Tuhan anak, Allah Bapa dan Roh Kudus. Mereka harus yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya juru selamat yang telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan umat manusia yang percaya kepadanya dari ancaman api neraka.
Bagaimana jika mereka menyangsikan dogma mendasar ini? Mereka akan dikatakan tidak beriman bahkan dalam istilah dalam ajaran islam mereka dapat dikatakan orang-orang kafir yang akan menderita dalam api neraka selama-lamanya setelah kiamat nanti.
Yang menarik disini adalah bahwa iman ternyata dapat membuat orang melakukan sesuatu di luar logika. Kita ambil contoh kasus bom bunuh diri. Mantan kepada BIN (Badan Inteligen Negara), Jendral (purnawirawan) Hendropriyono dalam disertasi Doktor-nya di UGM mengatakan bahwa yang mungkin melakukan bom bunuh diri hanyalah karena alasan ideologi, bukan hal lain. Ideologi lewat dogma-dogmanya ternyata dapat mengeliminir akal sehat manusia. Pelaku bom bunuh diri sangat yakin bahwa dengan melakukan mati syahid akan menjadi syuhuda yang sudah pasti akan masuk ke Sorga dan hidup kekal dalam kebahagiaan dengan 72 bidadari cantik dan berbagai fasilitas kenikmatan abadi lainnya. Anehnya, apa mereka tahu dengan detail tentang surga? Apakah sudah ada pembuktian akan kenikmatan surga diluar teks-teks kitab suci?
Bahkan doktrin ideologi modern seperti yang pernah dikembangkan oleh NAZI Jerman yang sujatinya adalah kebanggaan absurd atas teori Max Muller dalam mengartikal arti kata Arya dalam Rg. Veda dapat membunuh akal sehat manusia. Baru-baru ini di Alabama dan Georgia berkembang ideologi neo-nazi yang disebut White Power groups, The Aryan National Front yang dipimpn oleh Bill Riccio yang kembali mengumandangkan ideologi Nazi Jerman yang pernah di pimpin Hitler. Hanya dengan doktrin bahwasanya mereka adalah keturunan orang Arya yang paling sempurna dan paling mulia yang diciptakan oleh Tuhan sudah membuat mereka rela melakukan apapun, bahkan mati untuk ideologi-nya. Padahal pada kenyataannya tidak ada teori ilmiah maupun sumber yang dapat dipercaya yang membenarkan keyakinan mereka.
Hukum pancung dan hukum gantung yang juga banyak dilakukan karena dogma-dogma agama juga sudah sangat banyak terjadi. Kita ambil contoh bagaimana Galileo di eksekusi mati karena yakin dan membenarkan pandangan Copernicus bahwa Bumi itu bulat dan pusat tatasurya kita adalah Matahari. Hal ini sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan dalam Al-Kitab. Al-Kitab mengajarkan bahwa Bumi ini datar dan Matahari-lah yang mengelilingi Bumi. Sehingga orang-orang yang beriman pada Alkitab dan para pemimpin gereja mati-matian menentang apa yang disampikan oleh Galileo. Akibat kebenaran inilah Galileo harus merelakan nyawanya melayang di tangan orang-orang yang beriman pada Tuhan. Namun sebelum Galileo dieksekusi setelah mengaku bersalah dihadapan dewan agama berbisik “Eppur si muove” Ia (bumi) tetap bergerak.
Mari kita tengok sekilas ayat-ayat Alkitab yang mengakibatkan pengikut Yesus sampai harus menghukum mati Galileo karena teorinya itu;
1. Alkitab mengatakan bumi memiliki 4 penjuru;
Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari ke empat penjuru bumi. [Yesaya 11:12], [Hebrew: ‘arba` = empat; kanaph= sudut, pojok, penjuru]
Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon. [Wahyu 7:1]
2. Melihat seluruh permukaan Bumi dari Ketinggian:
Ketika aku sedang tidur, kulihat sebuah pohon yang tumbuh di tengah-tengah bumi. Pohon itu sangat tinggi; batangnya besar dan kuat. Puncaknya sampai ke langit, sehingga dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:10-11]Pohon yang Tuanku lihat itu begitu tinggi, sehingga puncaknya sampai ke langit, dan dapat dilihat oleh semua orang di bumi. [Daniel 4:20]

Dan Iblis membawanya ke puncak gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepadanya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya. [Matius 4:8]
Note: para penginjil akan berkilah bahwa itu hanya mimpi daniel, iblis membawa masuk ke alam roh, dst..namun perhatikan logika ‘melihat semua’ dari ketinggian tertentu! Setinggi2nya suatu tempat tidak mungkin melihat yang ada di bagian bumi di bawahnya [bulat]..kecuali tempat itu datar dan bila ini dianggap cuma mimpi buat apa dikategorikan suci sehingga masuk alkitab? Berarti Alkitab tidak semuanya adalah wahyu Tuhan kan?
3. Bumi memiliki tiang:
Yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang. [Ayub 9:6]..Tiang-tiang langit bergoyang-goyang, tercengang-cengang oleh hardik-Nya. [Ayub 26:11]
Note: Ibrani/hebrew untuk tiang = ammuwd; langit = shamayim, ‘owr = petir, halilintar; penggunaan kata petir bukan tiang ada di Ayub 37:11
4. Matahari yang beredar mengelilingi Bumi:
.. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. [Mazmur 19:4-6]
5. Bumi memiliki ujung:
untuk memegang ujung-ujung bumi, sehingga orang fasik dikebaskan dari padanya [Ayub 38:13]…..dan juga kilat petirnya ke ujung-ujung bumi. [Ayub 37:3]..Karena ia memandang sampai ke ujung-ujung bumi. [Ayub 28:24]
[note: mereka akan berkilah bahwa tidak ada perbedaan antara tanah dan bumi dalam bahasa inggris..namun ayat2 ini berbicara bumi bukan tanah , lihat di Ayub 38:4, ‘…meletakan dasar bumi..’]
Sebab itu orang-orang yang diam di ujung-ujung bumi takut kepada tanda-tanda mujizat-Mu; tempat terbitnya pagi dan petang Kaubuat bersorak-sorai.[Mazmur 65:8]
engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”[Yesaya 41:9]
Ya TUHAN, kekuatanku dan bentengku, tempat pelarianku pada hari kesesakan! Kepada-Mu akan datang bangsa-bangsa dari ujung bumi serta berkata: “Sungguh, nenek moyang kami hanya memiliki dewa penipu, dewa kesia-siaan yang satupun tiada berguna. [Yeremiah 16:19]
6. Kubah Langit dan Batas langit
Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya [AMSAL 8:27]
Yang mendirikan anjung-Nya di langit dan mendasarkan kubah-Nya di atas bumi; yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi–TUHAN itulah nama-Nya. [Amos 9:6]
Awan meliputi Dia, sehingga Ia tidak dapat melihat; Ia berjalan-jalan sepanjang lingkaran langit! [Ayub 22:14]
7. Yesaya [40: 22] menyatakan bumi itu datar:
Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!
Versi inggrisnya:
[It is] He who sits above the circle of the earth, And its inhabitants [are] like grasshoppers, Who stretches out the heavens like a curtain, And spreads them out like a tent to dwell in. [NJKV]
Perhatikan kata ‘curtain’ dalam bahasa Inggris namun diterjemahkan sebagai ‘kain’ di versi LAI. Kata asli dalam leksikon ibraninya adalah ‘doq, artinya: Veil=tudung. kubah; curtain= korden, tirai [sama sekali tidak mendekati kata ‘kain’]
kata ‘erets di ALKITAB banyak digunakan, berikut adalah arti dan jumlah pemakaiannya dialkitab: land [Tanah] =1543 x, earth [tanah/bumi]= 712 x, country [daerah]= 140 x, ground [permukaan tanah]= 98 x, world[dunia] = 4 x.
‘erets secara statisktik lebih banyak di artikan sebagai ‘tanah’ daripada ‘bumi’ dan memang tergantung konteks pemakaian
Kata chuwg, di Alkitab dipakai 3 kali: Circle=1 , circuit=1, compassed=1, Definisi: to encircle, encompass, describe a circle, draw round, make a circle
Jadi, seharusnya terjemahannya kedalam bahasa Indonesia adalah:
Ia yang bersemayam di tonjolan Bumi[‘erets], dan penduduknya [adalah] bagai belalang, ia yang menarik langit bagai kubah[doq], dan membentangkannya bagai kemah untuk di huni
Bagaimana bentuk Kubah? Atap yang melengkung diatasnya sebuah bidang datar. Ini adalah persis seperti maksud surat Amsal 8:27 dan Amos 9:6 di atas
Arti [‘doq] versi LAI menjadi ‘kain’ bukan kubah, ini juga menjadi menarik! Bagaimanapun cara mereka menghindar dengan memanipulasi kata menjadi ‘kain’ namun mereka tetap lupa untuk sekalian memanipulasi satu kata lagi yaitu membentangkan!
Bagaimana bentuk sesuatu saat dibentangkan? Ia berada dalam keadaan datar/lurus, Disamping itu pula, di dalam Kitab Yesaya saja kita temukan beberapa indikasi kuat bahwa ada Ujung Bumi [Yesaya 5:26, 24:16, 42:10, 48:20], ujung langit [Yes 13:5] dan bagaimana tuhan menciptakan Bumi dari ujung ke ujung [Yes 40:28], ujung-ujung bumi [Yes 41:5, 41:9, 43:6, 45:22], Bumi memiliki 4 Penjuru [, Bumi memiliki 4 Penjuru [Yes 11:12]
Tidak ada penduduk di muka bumi yang menyerupai belalang, maka ‘dwelling above the circle of earth atau bersemayam di tonjolan bumi’ jelas merupakan metaphora yang berarti ‘bersamayam di atas bukit atau gunung (lengkungan/tonjolan tanah/bumi). Alasan ini lebih masuk akal mengingat Alkitab juga merekam bahwa Abraham, Yakob, Iskak dan Musa kerap kali diperintahkan Allah untuk menghadap ketempatNya yang sangat jelas dan spesifik disebut sebagai GUNUNG TUHAN, misal:
    • Lalu berangkatlah mereka dari gunung TUHAN…[Bil: 10:33, Juga Yesaya 2:3; 30:29, zakharia 8:3]
    • Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?” [Mazmur 24:3]
    • dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub [Mikha 4:2]
    • Gunung lainnya yang sering disebut-sebut sebagai tempat menghadap diantaranya adalah Gunung Sion (Yesaya [2:2], [24:23]; Mazmur [74:2]), Gunung Horeb gunung Allah, nama lain Gunung Sinai? (1 raja-raja [19: 8]; keluaran [3:1], [3:12], Kel [19:3] dan Ulangan [1:6]), Gunung Ebal (Yos [8:30], 8:33), Gunung Hor, Lebanon (Ulangan 32:50-51), Efron, Pegunungan di Utara Judah, Effraim (Kejadian [49:29]), Gunung Sinai (Kel [19:16-21]), Gunung Moria, sebelah Timur Yerusalem (Kejadian [22:2], [22:11], [22:14]; 2 tawarih [3:1]), Gunung (Wahyu [21:10], 2 petrus [1:18])
Dari ayat-ayat Alkitab diatas, pengikut alkitab menympulkan bahwa;
  • Empat penjuru bumi dapat juga berarti 4 arah mata angin namun di kitab wahyu dituliskan bumi memiliki hanya 4 Penjuru. Kalimat ini hanya dimungkinkan pada bentuk BUMI yang datar dan mempunyai 4 sudut (Persegi)
  • Dari suatu tempat yang tinggi dapat melihat seluruh permukaan bumi, hanya dimungkinkan dengan satu kondisi yaitu BUMI itu DATAR
  • Sampai ke ujung Bumi ujung-ujung, dapat diartikan seluruh penjuru tempat, namun terdapat Yesaya [41:19] menggunakan kata UJUNG dan PENJURU dan terdapat kata-kata memegang ujung-ujung, sehingga tidak tepat dikatakan seluruh penjuru, dan hanya terjadi jika BUMI itu DATAR.
  • Bumi memiliki tiang yang dapat bergoyang dapat di artikan sebagai ada gempa, Adanya tiang menunjukan bahwa BUMI diciptakan dahulu dan setelah itu LANGIT di ciptakan sehingga harus disangga agar langit tidak jatuh menimpa. Amsal [8:27] mendukung hal ini, dimana Bumi sudah ada terlebih dahulu, dan Langit baru hendak dipersiapkan.Ujung langit dan bumi adalah Samudera. Ini juga menyatakan bahwa Bumi datar dengan Langit seperti Kubah yang juga didukung Amos 9:6, Ayub [22:14] dan Yesaya [40:22].
  • Yesaya [40:22] justru menunjukan Bumi itu Datar, Ia menunjukan Tuhan bersemayam yaitu di tonjolan Bumi sebagai arti kiasan dari bukit atau Gunung, yang disebut sebagai GUNUNG TUHAN tempat Allah Yakub. Disamping itu di ayat Yesaya lainnya juga tegas sekali dinyatakan bahwa bumi mempunyai empat penjuru dan ujung-ujungnya.
  • Alkitab menjelaskan bahwa Mataharilah berjalan pada Bumi yang datar (dari satu Ujung ke Ujung yang lain). Bumi itu Diam tidak berputar.
Disaat kitab suci menolak untuk dikaji, kitab suci dijunjung sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh diperdebatkan, maka bencana-bencana seperti dua kasus diatas pasti akan terjadi.
Oleh karena itu anda sebagai orang yang intelek, yang punya kecerdasan dan nalar yang tinggi sudah seharusnya keluar dari dogma-dogma dan doktrin agama. Apalagi anda pengikut Veda, sudah sewajarnya berusaha berpikir kritis akan segala sesuatu. Bahkan ajaran Sang Buddha, Avatara Tuhan yang ke-9 dalam Dasa Avatara yang tertuang dalam kitab Kalama sutta mengatakan; “Jangan percaya begitu saja pada sesuatu yang anda dengar. Janganlah percaya begitu saja pada suatu tradisi, karena telah berlangsung untuk banyak generasi. Janganlah percaya pada sesuatu yang sedang dibicarakan dan didesas-desuskan oleh banyak orang. Janganlah percaya begitu saja pada sesuatu karena telah tertulis dalam kitab-kitab agama. Janganlah percaya begitu saja sesuatu yang diucapkan gurumu atau orang-orang yang lebih tua.”
Oleh karena itu banggalah menjadi Hindu, Banggalah sebagai bagian dari agama Timur. Banggalah menjadi bagian dari agama ilmiah.

Jumat, 20 Januari 2017

Jangan panggil aku" Peyembah

Image result for penyembah krishna

Dua orang anak kecil sedang bergumam di sebuah taman. Mereka asyik membicarakan pola hidup mereka yang sangat berbeda. Sebut saja salah satunya adalah si Hendra yang merupakan anak Bapak Mangku Anom. Hendra adalah keturunan Bali berdarah Jawa dari Ibunya. Kesehariannya Hendra dididik dengan budaya campuran Jawa dan Bali. Dan karena Bapaknya adalah seorang pemangku Hindu Bali turun-temurun, Hendra dididik dengan ajaran “nak mulo keto”, terbiasa dengan upacara adat Bali dan juga tidak tahu seluk-beluk kitab suci Veda yang dianutnya. Namun demikian, Hendra adalah anak yang taat, rajin sembahyang dan tingkah lakunya patut dipuji. Berbeda dengan temannya, Nanda yang lahir di Australia dari keluarga modern. Ayahnya adalah orang Bali yang sangat berpendidikan dan menjadi pebisnis hebat di Australia. Sementara Ibunya keturunan India-Australia. Ayahnya Nanda sudah sejak lama menjadi pengikut ajaran Srila Prabhupada dalam garis perguruan Brahma Gaudiya Vaisnava. Apa lagi setelah menikah dengan istrinya yang keturunan India-Australia, mereka sepakat mengikuti ajaran Hindu yang tampak berbeda dengan ajaran Hindu di Bali. Mereka sangat taat dalam melaksanakan ajaran-ajaran Gaudiya Vaisnava. Nanda yang lahir dalam lingkungan keluarga Vaisnava dididik sejak kecil membaca kitab suci Veda, melaksanakan pola hidup vegetarian dan pantangan-pantangan lain yang sangat strict. Namun pada kenyataannya, meski dididik dengan sangat taat seperti itu, Nanda ternyata hanya bisa mengikuti secuil ajaran orang tuanya itu. Nanda tampak religius, namun kesehariannya tidaklah mencerminkan apa yang diajarkan orang tuanya. Entah kenapa pada saat mereka asyik bergurau, Nanda bergumam: “Ah… kamu orang Karmi tahu apa sih?”. Akhirnya Hendra menyaut: “Ya Nanda, aku memang hanya seorang Karmi. Tidak seperti kamu yang sudah menjadi Penyembah sejak kecil, aku memang tidak bisa mengerti filsafat tinggi yang kamu sampaikan ke aku”. Demikianlah percakapan mereka berlanjut yang intinya mengarah kepada dikotomi istilah “Karmi” dan “Penyembah”. Kisah fiktif ini adalah secuil contoh kasus dikotomi yang sering terjadi baik disebabkan oleh mereka yang mengaku pengikut Srila Prabhupada, maupun mereka yang sudah terlanjur anti pati dengan ajaran Prabhupada.

Kekeliruan penggunaan istilah “Penyembah” dan “Karmi”

Sering kali mereka yang sudah merasa mengikuti ajaran Vaisnava mengatakan semua orang diluar pengikut ajaran mereka adalah orang-orang Karmi yang posisinya lebih rendah dari mereka. Dan sering juga ada yang beranggapan bahwa orang yang sudah masuk dan tinggal di ashram atau temple adalah penyembah. Sudah tepatkah pengunaan kata “Karmi” dan “Penyembah” di sini? Tidakkah hal ini merupakan dikotomi yang tidak tahu malu?
Istilah “Penyembah” mulai menjadi trend di Indonesia setidaknya setelah menyebarnya ajaran Srila Prabhupada baik melalui buku-buku beliau maupun preaching center yang didirikan oleh murid-murid beliau.  Istilah Penyembah ini diadopsi dari bahasa Inggris, “devotee”. Di luar negeri, istilah devotee biasa digunakan hampir oleh semua orang untuk menyebutkan mereka yang percaya dan taat pada Tuhan, baik itu dari pihak Kristen, Katolik, Yahudi maupun kelompok Theis lainnya. Sehingga sangatlah lazim jika istilah devotee ini juga digunakan oleh Srila Prabhupada beserta pengikut beliau untuk menyebut sesama mereka. Namun sepertinya beberapa orang di Indonesia menerjemahkan istilah devotee secara lebih sempit sebagai “Penyembah” dalam artian khusus, yaitu mereka yang menjadi murid-murid dan pengikut Srila Prabhupada.
“Karmi”, sebagai lawan dari kata “Penyembah” yang sangat sering ditujukan untuk mereka yang beroposisi memang sangat banyak dapat kita temukan dalam buku-buku Srila Prabhupada. Namun benarkah istilah ini ditujukan untuk menunjuk orang-orang yang diluar kelompok barisan perguruan Srila Prabhupada? Istilah Karmi muncul berdasarkan pada pemahaman bahwasanya Catur Yoga adalah empat jalan kerohanian bertingkat (tangga yoga) yang harus dilalui oleh seorang penekun spiritual mulai dari tingkatan Karma, Jnana, Dhyana dan Bhakti Yoga. Dalam pemahaman ini, dikatakan mereka yang baru dalam tingkat Karma Yoga baru melakukan segala petunjuk ajaran Veda sampai pada tingkat sensual dan mental dengan melakukan kerja keras demi mengharapkan hasil dan kepuasan baik di dunia ini maupun harapan pahala di planet-planet Sorga setelah meninggal. Sementara mereka yang sudah lebih maju, ada pada tingkatan Jnana Yoga. Mereka dikatakan ada pada posisi intelektual, berusaha mengerti kebenaran mutlak dengan berbagai kemampuan diskusi dan debat filsafatnya. Sehingga mereka dikatakan melakukan kegiatan sebagaimana dalam Karma Yoga, namun juga dilengkapi dengan kesadaran akan keberadaan Sang Mutlak. Sedangkan pada tingkatan di atasnya lagi, disebut Dhyana Yoga. Pada tingkatan Dhyana Yoga, dikatakan bahwasanya mereka memiliki semua kualifikasi Karma dan Jnana Yoga. Menyadari hakekatnya sebagai Atman yang kekal abadi, namun masih tersimpan rasa ego. Dan lewat meditasinya kepada Tuhan, mereka bertujuan mencapai siddha (kesaktian) Yoga. Sementara itu pada tingkatan yang terakhir, yaitu pada saat seseorang benar-benar menyerahkan dirinya dalam cinta kasih bhakti kepada Tuhan baik dengan bekerja, berfilsafat maupun meditasi disebut mencapai Bhakti Yoga. Mereka yang baru menapak Karma Yoga disebut Karmi, mereka yang sudah mencapai Jnana Yoga disebut Jnani, mereka yang sudah mencapai Dhyana Yoga disebut Yogi dan mereka yang sudah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan disebut Bhakta. Jadi dengan konsep tangga Yoga ini, istilah Karmi pada dasarnya ditujukan kepada mereka yang seluruh aktifitas kegiatannya hanya diperuntukkan demi kesenangannya sendiri di dunia ini maupun demi pahala di sorga saja  tanpa memperdulikan rasa cinta kasih bhakti kepada Tuhan.

Masuk Ashram, tidak otomatis menjadi “Penyembah”

Istilah Penyembah dalam hubungannya dengan istilah Karmi, tidak dapat ditafsirkan dengan cara sempit. Istilah penyembah di sini berkaitan erat dengan mereka yang sudah mencapai posisi Bhakta, penyembah Tuhan yang telah menyerahkan diri dalam cinta kasih bhakti yang tulus. Srila Prabhupada menjabarkan istilah “Penyembah” sebagai berikut: “Para “penyembah” (Bhakta) sesungguhnya adalah orang-orang suci, atau sadhu. Kualifikasi pertama seorang sadhu adalah ahimsa, atau tidak melakukan kekerasan. Orang yang tertarik pada jalan bhakti, atau pada jalan pulang kembali kepada Tuhan, pertama-tama harus mempraktekan ahimsa, atau tidak melakukan kekerasan. Seorang sadhu dijelaskan sebagai titiksavah karunikah (SB 3.25.21). Seorang penyembah hendaknya penuh toleransi dan hendaknya sangat berbelas kasih kepada orang lain. Sebagai contoh, jika dia sendiri yang menderita luka, ia hendaknya menoleransinya, namun jika ada orang lain yang menderita luka, penyembah tidak boleh membiarkannya. Seluruh dunia penuh dengan kekerasan, dan urusan pertama seorang penyembah adalah menghentikan kekerasan ini, termasuk penjagalan binatang secara tidak perlu. Seorang penyembah adalah kawan bukan hanya bagi masyarakat manusia melainkan juga bagi semua makhluk hidup, sebab ia melihat semua makhluk hidup sebagai anak-anak dari Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Ia tidak mengklaim dirinya sebagai satu-satunya putra Tuhan dan membiarkan yang lainnya dibantai, dengan menganggap mereka tidak memiliki roh. Filsafat semacam ini tidak pernah dikemukakan oleh seorang penyembah Tuhan yang murni. Suhrdah sarva dehinam: seorang penyembah yang sejati adalah kawan bagi semua makhluk hidup. Krishna menyatakan di dalam Bhagavad-gita sebagai ayah bagi semua jenis makhluk hidup; karena itu penyembah Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna selalu merupakan kawan bagi semuanya. Ini disebut ahimsa. Tindakan tidak melakukan kekerasan seperti itu dapat dipraktikan hanya jika kita mengikuti langkah para acarya agung. Karena itu, menurut filsafat Vaisnava, kita harus harus mengikuti para acarya agung yang berasal dari salah satu dari empat sampradaya, atau garis perguruan yang diakui Veda.
Dalam posisi sebagai penyembah Tuhan, mereka juga disebut sebagai Vaisnava. Seorang Vaisnava sudah pasti seorang yang berkualifikasi Brahmana, yaitu mereka yang memiliki kedamaian hati (samah), kendali diri (damah), kesederhanaan (täpah), kesucian (saucam), toleransi (ksantir), kejujuran (arjavam), berpengetahuan rohani (jïänam), bijaksana. (vijïänam), agamis (astikyam), berpuas hati (santosah), pengampun (ksanthih), bhakti kepada Tuhan (bhakti), dan kasih sayang (daya) – (Bg. 18.42 dan Bhag.11.17.16).
Jadi, secara singkat dapat dikatakan bahwasanya persyaratan untuk dapat dipanggil sebagai seorang penyembah sangat-sangat berat. Masuk ke asrama, memulai belajar kitab suci Veda, mendekati seorang guru kerohanian dan bergaul dengan para penekun jalan Bhakti barulah langkah yang sangat awal. Masih terdapat jalan yang sangat panjang dengan berbagai rintangannya yang membentang di depan kita yang harus kita hadapi untuk dapat memenuhi kualifikasi seorang penyembah. Sehingga kita yang baru dalam tahap awal dan belum bisa memenuhi semua kualifikasi di atas, baru dapat dikatakan sebagai “orang yang belajar menjadi penyembah”, bukan penyembah. Hal ini juga berlaku pada cerita fiktif di awal, meskipun Nanda lahir dengan orang tua yang sangat tekun dalam bhakti, tetapi kalau dia sendiri tidak memiliki kualifikasi itu, tetap saja Nanda tidak dapat dikatakan sebagai penyembah. Nanda dan kita yang sudah mulai belajar Veda, menemukan guru kerohanian dan sadhu yang memberi kita pergaulan sudah beruntung, tetapi sekali lagi harus diingat, kita baru ada dalam posisi belajar menjadi penyembah.

Tidak semua orang yang berada di luar garis perguruan Srila Prabhupada adalah “Karmi”

Sebagaimana disebutkan dalam Bhagavata Purana 6.3.21, ajaran Veda memiliki empat garis perguruan pokok, yaitu dari Brahma Sampradaya, Sri (Laksmi) Sampradaya, Ludra (Siva) Sampradaya dan Catur Kumara (Sanaka) Sampradaya. Dari keempat gari perguruan awal ini, seiring berjalannya waktu akhirnya membentuk cabang-cabang perguruan baru bagaikan sebuah batang pohon dengan ratusan dahan dan ribuan rantingnya. Garis perguruan Srila Prabhupada sendiri yang tergabung dalam organisasi ISKCON hanyalah salah satu dari ranting-ranting yang sangat banyak itu. Karena itulah kita harus menyadari bahwasanya di luar sana, masih terdapat banyak garis perguruan bonafide dengan guru-guru dan sadhu yang sangat bonafide yang harus kita hormati dan sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai “Karmi”.
Bahkan mereka yang dalam hidupnya kurang beruntung karena belum menemukan guru yang bonafide pun tidak serta merta bisa dikatakan sebagai Karmi. Jika orang itu melaksanakan segala kegiatan dengan penuh cinta bhakti yang tulus ikhlas kepada Tuhan, maka Tuhan sendiri dalam aspeknya sebagai Paramatman yang akan menuntun mereka (Bhagavad Gita 18.61-62).
Karena itu, mari kita lebih hati-hati memanggil orang lain dengan sebutan Karmi dan mengatakan diri sebagai Penyembah. Mari kita posisikan hati kita lebih rendah dari rumput di jalanan, lebih toleransi dari sebatang pohon, tidak mengharapkan penghormatan pribadi dan selalu siap memberi hormat kepada orang lain. Semoga dengan sikap seperti ini, kita mampu mengarungi jalan panjang jalan Bhakti dan suatu saat bisa mencapai kualifikasi Uttama Adikari (Bhakta Tuhan yang utama).
Om Tat Sat

Sumber : Narayanasmrti
Halabrada Dasa
Laksmi Narayana Dasa

Selasa, 27 Desember 2016

KONSEP KETUHANAN MENURUT BHAGAVAD-GITA


Image result for bhagavad gita as it is

Salah satu sifat Tuhan Yang Maha Esa adalah Vidhi, berarti Maha Tahu. Dalam konsep Ketuhanan Hindu di Indonesia, sifat Vidhi inilah yang paling banyak diketahuai. Lalu dengan mengadopsi bahasa Bali dan Cina muncullah frase “Ida Sang Hyang Vidhi Wasa.” Jadilah, nama Tuhan kita adalah “Ida Sang Hyang Widhi Wasa” yang berarti Beliau yang maha mengetahui dan maha kuasa. Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran Hindu disebut dengan ribuan nama, ribuan nama itu adalah nama yang diperuntukkan kepada sifat-sifat, karakter atau aspek kemahakuasaan-Nya yang sangat didambakan oleh umat manusia ( Suryanto, 2006 : 117).
Dalam kitab-kitab Upanisad dikatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan kebenaran yang tertinggi dan maha mutlak. Tak ada kebenaran yang melebihi Beliau. Hal ini sesuai dengan apa yang diuraikan dalam Bhagavad-gita bab 7 sloka 7 sebagai berikut :
mattah parataram nanyat
kincit asti dhananjaya
mayi sarvam idam protam
sutre mani gana iva

Artinya : Wahai perebut kekayaan, tidak ada kebenaran yang lebih tinggi daripada-Ku. Segala sesuatu bersandar kepada-Ku, bagaikan mutiara diikat pada seutas tali ( Prabhupada, 1986 : 361).
Segala sesuatu memang bersandar dan tergantung pada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber asli segala sesuatu. Tuhan bersifat maha mutlak dan di luar jangkauan daya pikir filosofis yang paling besar sekalipun. Karena kemahamutlakan Tuhan Yang Maha Esa, maka Tuhan hanya dapat dimengerti atas karunia dari Beliau. Dalam kitab suci Veda terutama Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana memberikan penjelasan yang lengkap tentang Tuhan. Tuhan Yang Maha Esa disebut sebagai kebenaran mutlak yang dapat diinsafi atau dipahami dalam tiga aspek pengertian yaitu : Brahman atau kerohanian yang berada di mana-mana dan tidak bersifat pribadi,Paramatma yang juga dikenal sebagai jiwa utama (Supersoul) yaitu aspek yang maha kuasa yang berada disuatu tempat dalam hati setiap mahluk hidup dan Bhagavan atau kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan dunia ini dan memelihara segala sesuatu . (Knapp, 2005 : 19).
Untuk lebih jelasnya tiga aspek Tuhan Yang Maha Esa tersebut dijelaskan dalam Bhagavata Purana (Srimad Bhagavatam) skanda I bab 2 sloka 11 sebagai berikut :
vadanti tat tattva vidas
tattvam yaj jnanam advayam
brahmeti paramatmeti
bhagavan iti sabdyate

Artinya :  Para rohaniwan terpelajar yang mengenal kebenaran Mutlak menjuluki zat yang tidak nisbi tersebut Brahman, Paramatma dan Bhagavan (Prabhupada, 1994 : 109).
Tiga aspek rohani tersebut dapat dijelaskan dengan menggunakan contoh matahari, yang juga mempunyai tiga aspek yang berbeda, yaitu sinar matahari, bola matahari dan penguasa matahari atau Dewa matahari. Orang yang mempelajari sinar matahari adalah murid pada tahap mulai belajar. Orang yang mengerti tentang bola matahari lebih maju dan orang yang dapat masuk ke dalam matahari dan tahu dengan penguasa matahari adalah murid yang paling maju dan tertinggi. Orang-orang yang hanya puas dengan mengerti tentang sinar matahari yaitu sinar matahari yang berada di mana-mana dan cahaya sifat tak pribadinya yang menyilaukan dapat dibandingkan dengan orang yang hanya menginsafi aspek Brahman dari kebenaran Mutlak. Orang yang lebih maju dapat mengenal bola matahari, yang diumpamakan sebagai pengetahuan tentang aspek Paramatma dari kebenaran Mutlak. Orang yang dapat masuk ke dalam inti planet matahari dan mengetahui bahwa ada kepribadian yang berkuasa di planet matahari itu, dapat diumpamakan sebagai orang yang menginsafi aspek Bhagavan dari kebenaran Mutlak. Karena itu, orang yang dapat menginsafi aspek Bhagavan kebenaran Mutlak adalah rohaniwan-rohaniwan tertinggi, kendatipun semua orang yang tekun mempelajari kebenaran Mutlak sedang menekuni mata pelajaran yang sama. sinar matahari, bola matahari dan penguasa matahari itu sendiri tidak dapat dipisahkan satu sama lain, namun para siswa yang masing-masing mempelajari tiga tahap yang berbeda tersebut tidak termasuk golongan yang sama (Prabhupada, 1986 : 71).
Untuk lebih jelasnya, penulis akan menguraikan secara terperinci mengenai tiga aspek kebenaran Mutlak atau Tuhan Yang Maha Esa tersebut, sebagai berikut:
BRAHMAN
Brahman adalah salah satu sebutan yang digunakan dalam Upanisad-upanisad untuk menamakan Tuhan Yang Maha Esa pencipta alam semesta ini. Brahman adalah absolud dalam segala-galanya. Brahman tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya (Swayambhu) dan mengadakan semua yang tampak maupun yang tidak tampak (Cudamani, 1990 : 65). Menurut Adi Sankaracharya segala sesuatu adalah BrahmanBrahman Yang Mutlak sajalah yang nyata, dunia ini tidak nyata dan jiwa atau roh pribadi tidak berbeda dengan BrahmanBrahman tertinggi menurut Sankaracharya tak berpribadi, Nirguna (tanpa sifat), Nirakara (tanpa wujud), Nirvisesa (tanpa ciri-ciri tertentu),Sanatana (tak berubah-ubah ), Nitya (abadi) dan Akarta (bukan pelaku atau perantara). Brahman tidak ada duanya, Esa dan tak memiliki yang lain di sisinya-Nya. Brahman tak dapat digambarkan, karena pengambaran akan menyatakan perbedaan-perbedaan (Masvinara, 1999 : 182).
Berbeda dengan Sankaracharya, Ramanujacharya, Madvacharya dan Caitanya berpendapat bahwa apapun juga semuanya adalah Brahman, tetapi Brahman disini bukanlah sesuatu yang bersifat serba sama, ada perbedaan yang jelas dan nyata antara Brahman dan jiwa. Alam semesta adalah nyata. Jiwa merupakan pelayan abadi dari Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki hubungan yang sama dengan Tuhan, seperti sinar matahari dengan mataharinya sendiri. Sinar matahari walaupun ia memancar dari matahari, ia bukanlah matahari, begitulah halnya dengan jiwa (Sivananda, 1997 : 232).
Brahman merupakan cahaya yang memancar dari badan Tuhan Yang Maha Esa (Brahmajyoti) dan tidak bersifat pribadi. Kenyataan ini dibenarkan oleh Bhagavad-gita bab 14 sloka 27 sebagai berikut :
brahmano hi pratisthaham
amrtasyavyayasya ca
sasvatasya ca dharmasya
sukhasyaikantikasya ca

Artinya : Aku adalah sandaran Brahman yang tidak bersifat pribadi, yang bersifat kekal, tidak pernah mati, tidak dapat dimusnahkan, kedudukan dasar kebahagiaan yang paling tinggi (Prabhupada, 1986 : 683).
Kedudukan dasar Brahman adalah keadaan bebas dari kematian, bebas dari kemusnahan, kekal dan bahagia.Brahman adalah awal keinsafan rohani. Keinsafan Brahman (pemahaman bahwa Tuhan Yang Maha Esa sebagai kekuatan yang ada di mana-mana dan tidak bersifat pribadi) secara universal sebagai pandangan dasar tentang konsep Tuhan. Seperti orang yang baru mengetahui sinar matahari belum tahu bola matahari dan penguasa matahari itu sendiri. Aspek Tuhan Yang Maha Esa yang tidak bersifat pribadi (Brahman) dipahami oleh orang-orang yang menempuh jalan Jnana Yoga, yaitu sebuah disiplin keagamaan yang memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan. Keinsafan Brahman merupakan keinsafan terhadap sifat kekekalan (Sat) dari kebenaran Mutlak Tuhan Yang Maha Esa.
Banyak orang yang beranggapan bahwa keinsafan pada Tuhan yang tidak bersifat pribadi (Brahman) merupakan keinsafan yang tertinggi. Kenyataan ini kalau dikaji lebih mendalam tidak sepenuhnya benar, karena orang kebanyakan dalam menyembah Tuhan Yang Maha Esa sangat membutuhkan nama dan rupa yang berbentuk simbol untuk menyembah Tuhan. Bagi orang yang tidak mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Esa bersifat pribadi dalam menyembah Tuhan akan mensimboliskan Tuhan Yang Maha Esa berada di angkasa yang tinggi (Luhuring angkasa). Kesulitan lebih banyak akan dijumpai oleh mereka yang masih dipengaruhi oleh badan wadag dalam menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang tak berwujud atau Nirguna (Wiana, 2005 :14). Hal ini juga dibenarkan oleh Bhagavad-gita bab 12 sloka 5 sebagai berikut :
klesho dhikataras tesam
avyaktasakta cetasam
avyakta hi gatir duhkham
dehavadbhir avapyate
Artinya : Kesukaran pada orang yang pikiranya terpusat pada Yang Tak-termanifestasikan lebih besar, sebab Yang Tak-termanifestasikan sukar dicapai orang yang dikuasai jasmaninya (Pendit, 1995 : 321).
Memang sangat sukar untuk menyatukan jiwa dan memusatkan pikiran pada Tuhan Yang Maha Esa, Yang Tak-termanifestasikan, Yang Tak terpikirkan, lebih-lebih kalau orang tersebut masih dikuasai oleh badan jasmaninya dengan segala macam kebutuhan duniawi selama orang masih hidup dalam dunia ini.
Menginsafi Brahman yang tidak bersifat pribadi (Nirguna) adalah keinsafan yang kurang lengkap terhadap keseluruhan yang Mutlak, karena dalam jalan ini terdapat kecenderungan seseorang akan jatuh lagi, sebab kekekalan yang tak terbatas yang tidak berwujud akan memaksa seseorang untuk mencari hubungan yang alamiah, hubungan yang bersifat pribadi. Dengan demikian terdapat kemungkinan mereka yang menempuh jalan keinsafan Brahmanakan terlahir lagi ke dunia ini untuk melanjutkan keinsafan diri mereka. Betapapun sukarnya, barang siapa yang dengan pengetahuan dan latihan-latihan berusaha dengan sungguh-sungguh memuja dan merenungkan secara menyeluruh Yang Tak-termanifestasikan, pada waktunya, pasti akan mencapai keinsafan yang tertinggi.
PARAMATMA
Aspek Paramatma (Roh Yang utama) adalah sebuah konsep pemahaman terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai aspek yang berada disuatu tempat tertentu di dalam hati setiap mahluk hidup (Prabhupada, 1986 : 71). Mahluk hidup dapat tumbuh dan berkembang karena adanya daya hidup di dalam badan yaitu atmanAtman merupakan percikan yang terkecil dari Paramatma (Roh Yang utama). Atman dan Paramatma berada dalam hati setiap mahluk hidup. Itulah sebabnya mahluk hidup dalam hal ini manusia tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Kita bisa membohongi orang lain, mahluk lain tetapi kita tidak bisa berbohong pada diri sendiri karena pada diri kita bersemayam Tuhan Yang Maha Esa sebagai Paramatma.
Keinsafan Paramatma adalah keinsafan tahap kedua terhadap kebenaran Mutlak dan merupakan keinsafan terhadap aspek Cit ( pengetahuan yang kekal) dari Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa sebagai Paramatma adalah kawan abadi bagi mahluk hidup, melalui salah satu bagian yang berkuasa penuh dari Diri-Nya, menemani para mahluk hidup untuk membimbing mereka dalam kenikmatan duniawinya dan memberikan petunjuk supaya mahluk hidup dapat bertindak sesuai dengan kehendaknya (Prabhupada, 1994 : 141).
Nama lain untuk ciri Paramatma Tuhan Yang Maha Esa adalah kala atau waktu yang kekal. Waktu yang kekal menyaksikan segala perbuatan kita, baik maupun buruk, sehingga berbagai reaksi sebagai akibatnya ditakdirkan oleh Beliau (Prabhupada, 1996 : 414). Dalam Bhagavad-gita bab 18 sloka 61 dinyatakan :
isvarah sarva bhutanam
hrd dese rjuna tisthati
bhramayan sarva bhutani
yantrarudhani mayaya
Artinya :  Tuhan Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati semua orang, wahai Arjuna, dan Beliau mengarahkan pengembaraan semua mahluk hidup, yang duduk seolah-olah pada sebuah mesin terbuat dari tenaga material (Prabhupada, 1994 : 814).
Aspek Paramatma merupakan tahapan keinsafan yang lebih tinggi dibanding keinsafan Brahman, dengan mempraktekkan Astangga Yoga atau Raja Yoga, seseorang yang menempuh jalan ini menginsafi Tuhan yang berada dalam dirinya dan dimungkinkan untuk maju setahap dalam keinsafan terhadap kebenaran Mutlak Tuhan Yang Maha Esa. Ketika seseorang mencapai tahap keinsafan Paramatma, ia akan menginsafi jenis kesadaran lain, bahwa seseorang akan mencapai esensi pengetahuan rohani (Cit) dari kebenaran Mutlak sebagai tambahan terhadap sifat kekekalan (Sat). Ibarat matahari, orang yang telah sampai pada aspek Paramatma berarti orang tersebut telah mengetahui dengan baik sinar matahari dan bola matahari.
Bahaya yang terdapat dalam menempuh jalan ini adalah kesalahan anggapan bahwa roh individu (Atman) adalah identik dengan Roh Yang Utama (Paramatma), untuk mengklarifikasi hal ini, kitab suci Veda memberikan analogi sebagai berikut : Roh Individu (Atman) dan Roh Yang Utama (Paramatma) ibarat dua ekor burung yang bersahabat yang hinggap di pohon yang sama. Salah satu diantara dua ekor burung tersebut yaitu Roh Individual (Atman) sedang memakan dan menikmati buah yang berada di pohon itu, sedangkan burung yang lain Roh Yang Utama (Paramatma) hanya memandang dan menyaksikan kawannya. Diantara dua ekor burung tersebut, kendatipun mereka mempunyai sifat yang sama, salah satu dipikat oleh buah pada pohon material, sedangkan yang lain hanya menyaksikan kawannya. Roh Yang Utama (Paramatma) adalah burung yang menyaksikan, dan Roh Individual (Atman) adalah burung yang makan. Dan jika suatu saat burung yang makan (Atman) berpaling pada burung yang menyaksikan (Paramatma) dalam cinta bhakti dan pengabdian, maka Roh Yang Utama (Paramatma) akan berkenan menuntun dan mengarahkan pengembaraannya untuk memahami pengetahuan rohani atau keinsafan yang lebih tinggi (Prabhupada, 1994 : 100).

BHAGAVAN
Bhagavan berasal dari dua kata Bhaga dan VanBhaga berarti kehebatan dan Van berarti yang memiliki. Jadi Bhagavanberarti yang memiliki kehebatan. Menurut Parasara Muni, ayah Srila Vyasadewa, Bhagavan berarti Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki enam kehebatan sekaligus yaitu segala kekayaan, segala kekuatan, segala kemashuran, segala ketampanan, segala pengetahuan dan segala ketidak terikatan. Ada banyak orang yang kaya sekali, perkasa sekali, tampan sekali, terkenal sekali, bijaksana sekali dan sangat tidak terikat, namun tiada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa ia mempunyai segala kekuatan, segala kekayaan, segala kemashuran dan sebagainya sekaligus dan sepenuhnya. Hanya Tuhan Yang Maha Esa yang dapat menyatakan demikian karena semuanya bersumber dari Beliau (Prabhupada, 2001 : 9).
Dalam banyak halaman Bhagavad-gita kata Bhagavan sering disebutkan, seperti “Sri Bhagavan Uvaca” yang berarti bahwa Tuhan Yang Maha Esa atau Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sedang bersabda. Dan kita tahu bahwa Bhagavad-gita berisikan percakapan antara Sri Krsna dan Arjuna yang terjadi di medan perang Kuruksetra. Sri Krsna disebut sebagai Bhagavan dalam banyak halaman Bhagavad-gita yang menunjukkan bahwa Sri Krsna adalah Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Seperti dalam Bhagavad-gita bab 12 sloka 2 yang berbunyi :
sri bhagavan uvaca
mayy avesya mano ye mam
nitya yukta upasate
sraddhaya parayopetas
te me yuktatama matah

Artinya :  Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna (Prabhupada, 1986 : 593).
Yang dimaksud dengan “Ku” dan “Aku” di sini adalah Ia Yang Maha Kuasa, dan ini menunjukkan Sri Krsna sendiri, dan yang dimaksud dengan “orang” adalah kita atau umatnya. ( Wiana, 2005 : 4). Sloka di atas merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan Arjuna mengenai mana yang lebih sempurna memuja Tuhan yang tak berwujud (Brahman, Nirguna) atau yang berwujud (BhagavanSaguna). Keinsafan terhadap aspek Bhagavan adalah keinsafan tertinggi terhadap kebenaran Mutlak. Keinsafan ini meliputi segala aspek rohani, yaitu kekekalan (Sat), pengetahuan (Cit) dan kebahagiaan (Ananda) dalam bentuk (Vigraha) yang lengkap. Sifat-sifat tersebut diidentikkan pada Sri Krsna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, kebenaran Mutlak, sumber roh yang utama dan Brahman yang tidak bersifat pribadi. Sebagaimana disebutkan dalam Brahma Samhita 5.1 sebagi berikut :
isvarah paramah krsna
sac cid ananda vigraha
anadir adir govindah
sarva karan karanam
Artinya :  Ada banyak kepribadian yang memiliki sifat-sifat Bhagavan, namun Krsna adalah yang paling tinggi, karena tiada seorang pun yang dapat melampaui Beliau. Krsna adalah kepribadian yang paling utama, dan badan Krsna kekal, penuh pengetahuan dan kebahagiaan, Krsna adalah Tuhan Yang Mahaabadin Sri Govinda dan sebab segala sebab (Prabhupada, 1986 : 72).
Ibarat matahari orang yang telah mengisafi aspek Bhagavan adalah orang yang telah mengetahui sinar matahari, bola matahari dan penguasa matahari atau Dewa matahari, inilah pengetahuan yang paling lengkap dan sempurna.
 Tuhan Yang Maha Esa adalah Saguna dan Nirguna
Dari uraian di atas mengenai konsep Tuhan menurut Bhagavad-gita yang dipahami melalui tiga aspek yaitu :Brahman, Paramatma dan Bhagavan, membuktikan bahwa konsep Ketuhanan dalam ajaran Hindu sangat lengkap. Karena itu tidak salah kalau kita mengatakan bahwa Weda adalah kitab suci yang tertua dan terlengkap, buktinya Tuhan dalam ajaran Hindu berwujud (Saguna) dan tidak berwujud (Nirguna), sedang dalam keyakinan yang lain jelas-jelas Tuhan tidak berwujud bahkan penggambaran wujud Beliaupun dilarang. Sebenarnya sangat jelas kalau dalam Weda Tuhan memiliki sifat Saguna (Tuhan berwujud) dan Nirguna (Tuhan tidak berwujud). Untuk memahami kedua sifat ini dalam menginsafi Tuhan dapat dicapai dengan jalan Yoga, yang dikenal dengan nama Catur Yoga (Empat jalan untuk menghubungkan diri kepada Tuhan). Empat jalan tersebut adalah bhakti yoga, karma yoga, jnana yoga dan raja yoga. Para penganut bhakti yoga dan karma yoga memuja Tuhan yang Saguna sedangkan para jnana yoga dan raja yogamemuja Tuhan yang Nirguna.
Seperti yang penulis utarakan dalam latar belakang masalah di atas mengenai Tuhan berwujud dan tidak berwujud yang masih ditanggapi dengan pro dan kontra di masyarakat, maka penulis mengadakan wawancara dengan beberapa tokoh Hindu mengenai hal tersebut. Dalam wawancara yang penulis lakukan dengan beberapa tokoh umat, penulis mendapat gambaran mengenai masalah tersebut. Wawancara yang penulis lakukan dengan Bapak Drs. Wayan Teja Arthana, seorang Wasi atau Pinandita dan juga ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sleman Yogyakarta, beliau berpandapat bahwa Tuhan dalam Hindu itu berwujud yang disebut Saguna dan tidak berwujud yang disebut Nirguna. Bukti Tuhan itu berwujud menurut Bapak Wayan Teja, sebelum persembahyangan dimulai seorang Wasi atau Pinandita akan ngantep banten atau mempersembahkan sesajian. Dalam ngantep banten ini seorang Wasi atau Pinandita akan mengundang Tuhan, kemudian mencuci kaki Beliau, memandikan Beliau, dipakaikan baju, kemudian di stanakan dan diberi persembahan. Proses ini sebenarnya jelas bahwa umat Hindu sebenarnya memuja Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud, cuma wujud Beliau disimbulkan melalui simbul-simbul seperti daksina dan Beliau di stanakan di Padmasana (bentuk pemujaan Padmasana). Mengapa Tuhan harus disimbulkan, menurut Bapak Wayan Teja, karena kemahakuasaan Tuhan yang maha besar maka tidak semua orang dapat melihat wujud Beliau, dan ini bukan berarti Tuhan tidak berwujud, Tuhan berwujud tetapi karena tidak semua orang dapat melihat wujud Tuhan, maka beliau disinbulkan dan di stanakan di Padmasana.
Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa itu berwujud, siapa sebenarnya wujud Tuhan itu? Bapak Wayan Teja mengatakan bahwa wujud Tuhan itu sesuai dengan Istadewata yang dijadikan obyek pemujaan masing-masing orang. Lalu bagaimana kalau ada yang mengatakan bahwa Rama, Narayana, Krsna adalah wujud Tuhan menurut Hindu. Bapak Wayan Teja menjawab, sejauh yang kita jadikan sebagai acuan adalah konsep awatara, maka benar Rama dan Krsna adalah wujud Tuhan menurut Hindu. Sekarang yang diperlukan adalah bagaimana agar umat memahami hal ini, sehingga tidak terjadi pro dan kontra dalam masyarakat. Itulah sebabnya diperlukan peningkatan kualitas sradhadan pemahaman umat terhadap ajaran-ajaran Hindu dengan lebih banyak membaca kitab suci atau buku-buku agama, mengkaji dan mendiskusikannya sesama umat.
Berbeda dengan Bapak Wayan Teja, Bapak Pande Januraga, seorang dokter yang sedang mengambil spesialis di Universitas ternama di Jogjakarta, beliau mengatakan sejauh konsep Tuhan mengacu pada Bhagavad-gita, maka jelas wujud Tuhan adalah Krsna. Soal percaya atau tidak itu tidak jadi masalah, karena Tuhan tidak disebabkan karena kita percaya atau tidak percaya. Tuhan tetap Tuhan, terlepas kita mempercayainya atau tidak. Dan Yang terpenting saat ini adalah bagaimana umat dapat mendalami ajaran-ajaran Bhagavad-gita dengan baik dan benar di bawah arahan seorang guru yang mengerti Bhagavad-gita, begitu ujar dr Pande.
Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Bapat Putu Putrayasa, seorang pemerhati Hindu dan juga Direktur Mitra Gama Group Jogyakarta. Beliau mengatakan bahwa kosep Tuhan menurut Hindu adalah Saguna(berwujud) dan Nirguna (tidak berwujud). Kalau kita mencari Tuhan Yang Maha Esa dalam Bhagavad-gita, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa Krsna adalah wujud Tuhan menurut Bhagavad-gita. Sekarang kalau di masyarakat banyak umat Hindu yang tidak mengakui wujud Tuhan itu Krsna atau Tuhan Yang maha Esa itu berwujud, bukan karena mereka tidak tahu tetapi lebih dikarenakan karena agama Hindu adalah agama minoritas di Indonesia, dan mayoritas orang beragama di Indonesia lebih mempercayai bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu tidak berwujud.
Dan kalau sekarang umat Hindu mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu berwujud seperti halnya manusia, dilahirkan, kemudian kita membuatkan patung atau arca dan memujanya, maka kita akan dikatakan menyembah patung atau berhala, sirik, menyekutukan Tuhan, dan bertentangan dengan dogma yang ada dimasyarakat. Ketakutan atau rasa malu kalau kita dikatakan menyembah berhala, sirik, menyekutukan Tuhan dan tidak sesuai dengan dogma di masyarakat, maka sebagian besar umat akhirnya mengatakan Tuhan itu ada tetapi tidak berwujud, wujud yang kami buat itu hanya untuk memusatkan pikiran saat kami sembahyang. Padahal menurut Pak Putrayasa orang tidak akan dapat memusatkan pikirannya pada saat sembahyang tanpa mewujudkan sesuatu yang dijadikan obyek pemusatan pikiran. Wujud Tuhan yang kita bayangkan pada saat kita sembahyang itulah sebenarnya wujud Tuhan.
Disamping itu menurut Bapak Putrayasa, sembahyang dengan wujud Tuhan harus dilakukan dengan jalan Bhakti. Melalui jalan bhakti ini seseorang mengaggap Tuhan Yang Maha Esa sebagai Raja dan kita harus melayani Beliau, seperti menstanakan Beliau, memandikan, memberi persembahan dan lain-lain,  sedangkan kebanyakan umat manusia, 20% mengejar nikmat dan 80% menghindari sengsara. Kalau kita membuat wujud Tuhan, kemudian kita susah, ya ngapain, kan lebih baik Tuhan itu tidak kita wujudkan, kita tidak susah dan aman, demikian kata Pak Putrayasa. Orang yang tidak mengakui wujud Tuhan Yang Maha Esa, berarti orang tersebut pemahamannya terhadap Tuhan belum sempurna, karena Tuhan maha sempurna tentunya Beliau bisa berwujud (Saguna),  bisa tidak berwujud (Nirguna), dan ini memerlukan proses yang panjang untuk mengetahui Tuhan yang berwujud, dan itu dilakukan melalui jalan bhakti.
Berbeda dengan pendapat Bapak Suryanto, seorang Dosen Agama Hindu di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan juga seorang penulis mengatakan, bukan hanya dalam ajaran Hindu Tuhan dikatakan berwujud, dalam  kitab-kitab agama lain seperti Injil, Alquran sebenarnya Tuhan juga berwujud. Buktinya ada perkataan kembali disisinya, kembali kepangkuan Bapak, Tuhan murka, Tuhan marah, Tuhan mengasihi dan sebagainya, bagaimana sesuatu yang tidak berwujud bisa mengasihi, membimbing, memangku, marah dan sebagainya. Semua ini hanya dapat dilakukan oleh sesuatu yang memiliki wujud. Bahkan dalam Injil dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia secitra dengan Beliau, ini berarti bahwa Tuhan duluan yang ada baru kemudian manusia diwujudkan sesuai dengan wujud Beliau. Ini membuktikan bahwa Tuhan memang berwujud, tetapi wujud beliau sifatnya  rohani.
Jadi pada dasarnya semua kitab suci mengatakan bahwa Tuhan itu sebenarnya berwujud, kalau kemudian ada yang beranggapan bahwa kata-kata kembali disisinya, Tuhan melihat, Tuhan memandang, Tuhan mengasihi hanya kiasan belaka untuk memudahkan kita memahami Tuhan, ini berarti bahwa kitab suci sejak awalnya sudah mengajarkan sesuatu yang bohong. Kalau umat Hindu di Indonesia banyak yang tidak mengakui wujud Tuhan, ini karena di Indonesia lebih banyak berkembang filsafat Sankara yang tidak mengakui bahwa Tuhan itu berwujud. Wujud-wujud Tuhan hanya dipakai sebagai perantara belaka bagi umat kebanyakan dan pada akhirnya wujud-wujud itu tidak lagi diperlukan. Karena itulah disimpulkan Tuhan itu tidak berwujud walaupun dalam Weda jelas-jelas Tuhan dikatakan berwujud.
Menurut Bapak Suryanto kalau kita mau mencari wujud Tuhan dalam kitab-kitab Weda seperti Bhagavad-gita, Bhagavata Purana dan lain-lain maka kita akan menemukan bahwa Krsna adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan Bapak Suryanto mengatakan Rsi Wyasa Dewa dalam Bhagawata Purana Skanda I bab 3 sloka 28 mengatakan …”Krsnas tu bhagavan svayam” … artinya Krsna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang asli. Dan kalau orang sekaliber Rsi Wyasa Dewa, yang kita yakini sebagai penulis kitab-kitab Veda, Itihasa, Mahabharata, Purana-purana dan lain-lain mengatakan bahwa Krsna adalah Tuhan Yang Maha Esa, apakah kita masih tidak mempercayainya, kalau masih, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri. Bhagavad-gita bab 3 sloka 21 menyatakan ;
yad yad acarati sresthas
tat tad evetaro janah
sa yat pramanam kurute
lokas tad anuvartate

Artinya : Apa saja yang dilakukan orang besar orang lain akan mengikutinya, contoh apa saja yang diberikannya seluruh dunia akan menurutinya (Pendit, 1994 :96).
Kalau orang besar saja tidak mengakui wujud Tuhan apa lagi orang awam, tentunya wajar banyak orang yang tidak percaya Tuhan memiliki wujud. Mengenai wujud Tuhan menurut kitab suci Weda terutama Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana yaitu Krsna, juga banyak yang tidak mengakuinya, karena orang beranggapan Tuhan tidak mungkin seperti manusia. Untuk anggapan ini Krsna dalam Bhagavd-gita bab 9 sloka 11 menjawab:
avajananti mam mudha
manusim tanum asritam
param bhavan ajananto
mama bhuta mahesvaram
Artinya : Orang bodoh menjelekkan Diri-Ku bila Aku menurun dalam bentuk seperti manusia. Mereka tidak mengenal sifat rohani-Ku sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada (Prabhupada, 1986 : 452).
Sankaracharya adalah orang yang menanamkan pengertian bahwa Tuhan itu tidak berkepribadian (Nirguna), tetapi Sankara terpaksa melakukan itu semua karena kondisi dan situasi semasa Sankara hidup mengharuskan Beliau melakukannya. Namun pada akhir hayat Beliau, Beliau mengatakan kepada semua muridnya:
bhaja govinda bhaja govindam
govinda bhaja mudha mate
samprapte sannihite kaale
nahi nahi raksati dukrinya karane
Artinya: Pujalah Govinda, pujalah Govinda, dan hanya pujalah Govinda wahai orang-orang bodoh yang intelek. Pengetahuan lain yang kau kejar tak akan membantumu saat ajalmu tiba (Pustaka Manikgeni, 2002 : 59).
Walaupun Sankara pada akhir hayatnya mengatakan demikian, tetapi murid-muridnya tidak mau mengikutinya. Govinda adalah nama lain Sri Krsna, ini berarti Sankara sebenarnya mengakui bahwa Tuhan berwujud. Narayana juga nama Krsna, dan dalam mantra Tri Sandya bait ke dua menyatakan bahwa Narayana adalah Tuhan Yang Maha Esa. Mantra Tri Sandya bait ke dua berbunyi :
om narayana evedam sarvam
yad bhutam yac ca bhavyam
niskalanko niranjano nirvikalpo
nirakhyatah suddo deva eko
narayana na dvityo sti kascit

Artinya : Ya Tuhan, Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, kotoran, perubahan dan tak dapat digambarkan. Ia yang satu tidak ada yang kedua yaitu Narayana (Pustaka Manikgeni, 2005 :12).
Banyak ayat yang membuktikan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu berwujud, dan wujud Beliau adalah Krsna. Para ahli filsafat seperti Ramanuja, Madva, Nimbarka, Vallabha, Caitanya dan lain-lain juga menyatakan demikian. Bahkan Rsi Narada, Asita, Devala, Vyasa Dewa juga menyatakan hal yang sama. Dalam pewayangan, khususnya wayang Jawa, para Dalang umumnya menyebut Krsna dengan tiga sebutan :
  1. “Krsna Ratu ring Ratu” artinya Krsna adalah raja segala raja. Bhagavad-gita bab 10 sloka 27 juga menyatakan bahwa diantara manusia Krsna adalah Raja (naranam ca naradhipam). Seorang raja yang bijaksana adalah yang dapat menegakkan kebenaran di atas segalanya. Bhagavad-gita bab 7 sloka 7 menyebutkan :
matah parataram nanyat
kincit asti dhananjaya
mayi sarvam idam protam
sutre mani gana iva
Artinya : Wahai Arjuna, tidak ada kebenaran yang lebih tinggi daripada-Ku. Segala sesuatu bersandar kepada-Ku, bagaikan mutiara pada seutas tali ( Prabhupada, 1986 : 361).
  1. Krsna ngerti sak durunge winarah” artinya Krsna tahu sebelum orang bicara. Bhagavad-gita bab 15 sloka 15 menyatakan :
sarvasya caham hrdi sannivisto
mattah smrtir jnanam apohanam ca
vedais ca sarvair aham eva vedyo
vedanta krd veda vid eva caham
Artinya : Aku bersemayam di dalam hati setiap mahluk. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan berasal dari-Ku. Akulah yang harus diketahui dari segala Veda, memang Akulah yang menyusun Vedanta, dan Akulah yang mengetahui Veda (Prabhupada, 1986 : 706).
Krsna mengetahui isi hati semua mahluk karena Beliau bersemayam dalam hati semua mahluk sebagaiParamatma.
  1. “ Krsna duwe gambare jagat” artinya Krsna memiliki gambar alam semesta.
Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa Krsna adalah sumber dunia rohani dan dunia material (Bhangavad-gita bab 10 sloka 8), sehingga wajar kalau beliau memiliki gambar alam semesta. Ada cerita, waktu Krsna kecil, Beliau makan tanah, Ibunya Yasoda, yang melihat Krsna makan tanah kemudian membuka mulut Krsna untuk membuang tanah yang dimakan, tetapi apa yang terjadi, Ibu Yasoda melihat seluruh alam semesta itu berada dalam mulut-Nya, Krsna. Ini pertanda bahwa Krsna adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Besar dan pemilik alam semesta. Namun tidak semua dapat memahami hal ini (Maswinara, 2000 : 102) Karena Tuhan Yang Maha Esa, Maha Segala-galanya, maka Beliau bisa berwujud (Saguna) dan juga bisa tidak berwujud (Nirguna).
Bhakti Yoga cara mendekati Tuhan yang Saguna
Banyak orang beranggapan bahwa jalan bhakti merupakan jalan yang paling mudah dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dibandingkan dengan yang lain. Anggapan ini benar untuk senagian orang tetap[I tidak benar untuk sebagian orang yang lain. Karena kalau memang jalan bhakti ini mudah mengapa tidak semua orang mengikuti jalan ini. Mengapa kita harus mencari jalan yang lain, yang sulit,  kalau jalan yang mudah sudah ada? Ini pertanda bahwa jalan bhakti itu tidak mudah.
Bhakti Yoga  adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, Hyang Widhi Wasa melalui sujud bhakti dengan dilandasi rasa cinta kasih yang mendalam dan dilakukan terus menerus dengan pikiran terpusat pada Tuhan (Tim Penyusun, 2004  40). Dalam bhakti, seorang bhakta (Sebutan pengikut bhakti) mengadakan hubungan dengan Tuhan yang berpribadi (Saguna). Tuhan diwujudkan dalam bentuk Arca atau Pratima yang dipuja dan dilayani seperti layaknya seorang raja. Dengan memuja Tuhan yang berpribadi, seorang bhakta akan menumbuhkembangkan hubungan cinta kasih yang bertimbal balik.
Dalam kitab Bhagavata Purana, atau yang dikenal sebagai Srimab Bhagavatam skanda 7 bab 5 sloka 23, seorang penyembah Krsna yang mulia bernama Prahlada menguraikan sembilan proses bhakti (nava vidha bhakti) kepada Tuhan yang Saguna, kepada ayahnya Hiranyakasipu, sebagai berikut :
sravanam kirtanam visnoh
smaranam padasevana
arcanam vandanam dasyam
sakhyam atmanivedanam

Artinya : Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Visnu), dapat dilakukan dengan cara sravanam, kirtana, smaranam, padasevanam, arcanam, vandanam, dasyam, sakhyam dan atmanivedanam.
Kesembilan proses bhakti ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Sravanam bhakti, cara bhakti dengan mendengarkan tentang Tuhan dan lila-Nya (kegiatan-Nya). Contoh : Maharaja Parikesit.
  2. Kirtana bhakti, cara bhakti dengan memuji,
  3. melagukan atau menyanyikan secara berulang-ulang nama-nama suci Tuhan. Contoh : Sukadeva Gosvami.
  4. Smarana bhakti, cara bhakti dengan mengingat-ingat nama dan wujud Tuhan. Contoh : Prahlada Maharaja.
  5. Padasevana bhakti, cara bhakti dengan melayani kaki padma Tuhan. Contoh : Dewi Sri atau Dewi Laksmi.
  6. Arcana bhakti, cara bhakti dengan melakukan pemujaan kepada Tuhan melalui media arca. Contoh : Maharaja Prtu.
  7. Vandana bhakti, cara bhakti kepada Tuhan dengan berdoa, membaca sloka-sloka. Contoh : Akrura.
  8. Dasyam bhakti, cara bhakti kepada Tuhan dengan pengabdian dan pelayanan. Contoh : Hanoman.
  9. Sakhya bhakti, cara bhakti kepada Tuhan seperti hubungan persahabatan atau kawan. Contoh : Arjuna.
  10. Atmanivedana bhakti, cara bhakti kepada Tuhan dengan menyerahkan diri sepenuhnya tanpa mengharapkan sesuatupun bagi dirinya. Contoh :Maharaja Bali (Prabhupada, 1984 : 114).
Sembilan proses bhakti ini, dapat dilakukan oleh seseorang yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya.
Dalam Bhagavad-gita bab sebelas dengan judul ‘Bentuk Semesta’, Arjuna melihat semua perwujudan Tuhan (Vivarupa Tuhan), tapi Arjuna tidak dapat mengerti semua itu, dan Krsna bersabda (Bhagavad-gita bab 11 sloka 54) sebagai berikut :
bhaktya tv ananyaya sakya
aham evam vidho rjuna
jnatum drastum ca tattvena
pravestum ca parantapa
Artinya : Arjuna yang baik hati, hanya melalui bhakti yang murni dan tidak dicampur dengan kegiatan yang lain Aku dapat dimengerti menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, yang sedang berdiri dihadapanmu, dan dengan demikian Aku dapat dilihat secara langsung. Hanya dengan cara inilah engkau dapat masuk ke dalam rahasia pengertian-Ku (Prabhupada, 1986 : 582).
Semua orang dapat mendekati Tuhan dengan berbagai cara, tetapi kalau orang tersebut belum melaksanakan bhakti,maka orang tersebut tidak akan dapat mengerti tentang Tuhan dengan baik. Mengenai keutamaan bhakti, dalam mengerti Tuhan, juga dijelaskan dalam Bhagavad-gita bab 18 sloka 55 sebagai berikut :
bhaktya mam abhijanati
yavan yas casmitattvatah
tato mam tattvato jnatva
visate tad anantaram 
Artinya : Seseorang dapat mengerti tentang-Ku menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, hanya dengan cara bhakti. Apabila ia sudah sadar akan Diri-Ku sepenuhnya melalui bhakti seperti itu, ia dapat masuk ke kerajaan-Ku (Prabhupada, 1986 : 808)
Jalan Bhakti adalah jalan yang dianjurkan untuk jaman ini dalam menghayati, memahami dan mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Banyak sloka dalam Veda, terutama dalam Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana yang menjelaskan keutamaan bhakti. Walaupun demikian kita masih tetap diberikan kebebasan untuk memilih sesuai dengan keinginan kita.
Hal ini dinyatakan dalam Bhagavad-gita bab 18 sloka 63 :
itite jnanam akhyatam
guhyad guhyataram maya
vimrsyaitad asesena
yathecchasi tatha kuru

Artinya : Demikianlah, Aku sudah menjelaskan pengetahuan yang lebih rahasia lagi kepadamu. Pertimbangkanlah hal-hal ini sepenuhnya, kemudian lakukanlah apa yang ingin kau lakukan (Prabhupada, 1986 : 816).
 Dalam berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa pada dasarnya ada dua jenis sikap yaitu Apara Bhakti dan Para Bhakti. Apara bhakti adalah cinta kasih yang perwujudannya masih lebih rendah, dan dilakukan oleh mereka yang belum mempunyai tingkat kerohanian atau kesucian tinggi. Dalam tingkatan Apara Bhakti orang memuja Tuhan dengan penuh pengharapan atau permohonan-permohonan. Sedangkan Para Bhakti adalah cinta kasih kepada Tuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tingkat kerohanian lebih tinggi. Dalam tingkatan Para Bhaktiseorang yang memuja Tuhan tidak lagi memohon atau mengharapkan balasan dari Tuhan atas bhakti yang dilakukannya. Pada tahap ini bhakti yang dilakukannya didasari pada keiklasan berkorban tanpa pamrih (Wiana, 1993 :42).




Sumber : Narayanasmrti.com

Halabrada Dasa

LAKSMI NARAYANA Dasa